<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>BELAJAR FILSAFAT YUK....</title>
	<atom:link href="http://kuliahfilsafat.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kuliahfilsafat.wordpress.com</link>
	<description>Let us be thankful for the fools. But for them the rest of us could not succeed. - Mark Twain</description>
	<lastBuildDate>Wed, 04 Jan 2012 23:40:36 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='kuliahfilsafat.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>BELAJAR FILSAFAT YUK....</title>
		<link>http://kuliahfilsafat.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://kuliahfilsafat.wordpress.com/osd.xml" title="BELAJAR FILSAFAT YUK...." />
	<atom:link rel='hub' href='http://kuliahfilsafat.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>MEMBELA TANGGUNG JAWAB MORAL</title>
		<link>http://kuliahfilsafat.wordpress.com/2010/11/12/tanggung-jawab-moral/</link>
		<comments>http://kuliahfilsafat.wordpress.com/2010/11/12/tanggung-jawab-moral/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Nov 2010 21:03:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kuliahfilsafat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Etika]]></category>
		<category><![CDATA[atma jaya]]></category>
		<category><![CDATA[etika]]></category>
		<category><![CDATA[jeremias jena]]></category>
		<category><![CDATA[moral]]></category>
		<category><![CDATA[tanggung jawab moral]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kuliahfilsafat.wordpress.com/?p=138</guid>
		<description><![CDATA[Kita bereaksi cukup keras terhadap berbagai pelanggaran norma moral, baik itu dilakukan oleh para pejabat publik, maupun anggota masyarakat biasa. Demikianlah, kita kecewa dan marah ketika pejabat publik melakukan tindakan korupsi, menyalahgunakan kekuasaan demi kepentingan pribadi atau golongan, mangkir dari tugas dan tanggung jawabnya, membuat kebijakan publik yang merugikan kepentingan masyarakat, merekayasa proses pengadilan, dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kuliahfilsafat.wordpress.com&amp;blog=6335470&amp;post=138&amp;subd=kuliahfilsafat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kita bereaksi cukup keras terhadap berbagai pelanggaran norma moral, baik itu dilakukan oleh para pejabat publik, maupun anggota masyarakat biasa. Demikianlah, kita kecewa dan marah ketika pejabat publik melakukan tindakan korupsi, menyalahgunakan kekuasaan demi kepentingan pribadi atau golongan, mangkir dari tugas dan tanggung jawabnya, membuat kebijakan publik yang merugikan kepentingan masyarakat, merekayasa proses pengadilan, dan sebagainya. Kita juga marah ketika ada anggota masyarakat (individu) bertindak asusila atau perilaku kriminal lainnya. Kekecewaan dan kemarahan kita merefleksikan sikap moral yang umum diterima, bahwa setiap individu memiliki tanggung jawab moral terhadap apa yang dipikirkan, dikatakan, diucapkan, dan tindakan-tindakannya. Reaksi kita mengungkapkan suatu kelaziman pemahaman mengenai tanggung jawab moral sebagai semacam <em>property of human agents</em>.</p>
<p>Di sini kita seakan menerima begitu saja, bahwa individu memang memiliki tanggung jawab moral. Bahwa bagian dari tanggung jawab moral pejabat publik adalah bekerja berdasarkan etos kerja yang baik, merealisasikan kepentingan masyarakat, dan membebaskan diri dari sikap dan/atau tindakan yang merugikan kepentingan umum. Tanggung jawab moral yang sama juga dituntut dari setiap individu, bahwa usaha mentaati norma moral publik adalah hal yang tidak bisa ditawar sejauh seseorang adalah bagian integral dari sebuah masyarakat. Dalam arti itu seakan diterima sebagai hal yang lazim bahwa kita yang memiliki tanggung jawab moral adalah pelaku moral (<em>moral agent</em>) yang bebas (<em>free agent</em>) dan yang memiliki kehendak bebas (<em>free will</em>). Bahwa kegagalan sebagai pelaku moral yang bebas dalam mentaati norma moral akan dikecam (<em>blame</em>), sementara keberhasilan menyesuaikan diri dengan norma moral akan dipuji dan didukung (<em>praise</em>).</p>
<p>Sejauh kesadaran semacam ini adalah <em>taken for granted</em>, kita sebetulnya bisa menyebutnya sebagai semacam kondisi alamiah. Buku Carlos Moya berjudul <em>Moral Responsibility: The Ways of Scepticism</em> (Routledge, London and New York: 2006) yang saya bahas di sini memang menyebut kesadaran ini sebagai kondisi alamiah dalam arti kesadaran akan adanya tanggung jawab moral sebagai yang umumnya diterima. Bagian dari kesadaran alamiah itu tidak hanya sikap mengecam atau mendukung pelanggaran atau ketaatan pada norma moral, tetapi juga afirmasi terhadap kebebasan dan kehendak bebas sebagai hal yang konstitutif bagi tanggung jawab moral itu sendiri.</p>
<p>Sama seperti sikap tidak kritis dan dogmatis pada umumnya, menerima begitu saja tanggung jawab moral sebagai bagian integral dari sikap dan tindakan pelaku moral justru dapat menjerat dan membelenggu kesadaran moral kita sendiri, seakan-akan tanggung jawab moral sesuatu yang tidak bisa dielakkan. Kalaupun tanggung jawab moral disepakati sebagai aspek tak-terelakkan dari totalitas sikap dan tindakan moral, dalam arti apa kita harus memahami keniscayaan ini? Dalam diskursus etika kontemporer mengenai tanggung jawab moral, Carlos Moya justru melihat tren meningkatnya sikap skeptisisme terhadap tanggung jawab moral itu sendiri. Kesan dan kesimpulan ini diambil berdasarkan analisis Carlos Moya terhadap buku-buku seperti <em>The Non-Reality of Free Will </em>(1991), <em>Free Will and Illusion </em>(2000), <em>Living Without Free Will</em> (2001) dan ratusan artikel di jurnal-jurnal filsafat dan etika. Menurut Carlos Moya, keyakinan tradisional terhadap tanggung jawab moral sebagai bagian konstitutif kesadaran moral manusia justru digerogoti oleh sikap skeptis para filsuf modern mengenai kehendak bebas (<em>free will</em>). Analisis mendalam terhadap buku-buku ini menunjukkan tren peningkatan skeptisisme terhadap kehendak bebas itu sendiri.</p>
<p>Bagi Carlos Moya, buku-buku tersebut jelas menyangkal realitas kehendak bebas (<em>free will</em>). Masalahnya, jika kehendak bebas disangkal, apakah tanggung jawab moral dengan sendirinya ditolak? Carlos Moya mendeteksi sesuatu yang menarik, bahwa di tengah upaya menyangkal kehendak bebas, muncul semacam upaya untuk mencegah agar skeptisisme terhadap kehendak bebas tersebut tidak merambah ke skeptisisme terhadap tanggung jawab moral. Dengan kata lain, orang seakan-akan berpendapat bahwa kehendak bebas boleh disangkal asal jangan menegasikan tanggung jawab moral. Calos Moya melihat bahwa usaha pencegahan itu dilakukan dengan mengatakan bahwa kehendak bebas (<em>free will</em>)—yang dipahami sebagai kebebasan untuk memilih dan bertindak secara berbeda—dan tanggung jawab moral bersifat independen satu sama lain karena itu tidak saling mengandaikan (Carlos Moya/CM: 2).</p>
<p>Dalam konteks inilah Carlos Moya melihat dua tren yang saling melengkapi dalam diskursus etika mengenai tanggung jawab moral. Di satu pihak muncul sikap skeptis terhadap tanggug jawab moral sebagai bagian integral dari kesadaran dan sikap moral individu. Tetapi di lain pihak ada upaya untuk mempertahankan tanggung jawab moral dengan mengajukan tesis bahwa kehendak bebas dan tanggug jawab moral tidak saling mengandaikan, sehingga menegasi yang satu tidak secara otomatis meniadakan yang lainnya. Bagi Carlos Moya, cara berargumentasi semacam ini bukan hanya tidak menyakinkan, tetapi juga melumpuhkan kemampuan argumentasi kita dalam mempertahankan tanggung jawab moral dan kehendak bebas sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kesadaran dan tindakan moral manusia.</p>
<p>Buku yang ditulis Carlos Moya ini sebenarnya merupakan usaha serius mempertahankan tanggung jawab moral dan kehendak bebas sebagai bagian konstitutif dari manusia sebagai <em>moral agent</em>. Caranya adalah dengan mematahkan argumen-argumen yang dikemukakan kaum skeptis yang menegasikan tanggung jawab moral. Menurut Carlos Moya, biasanya ada empat argumen dasar yang dikemukakan kaum skeptis ketika menegasikan atau menyangkal tanggung jawab moral. Keempat argumen itu dirumuskan demikian (1) determinisme bisa benar atau salah; (2) jika determinisme adalah benar, tanggung jawab moral tentu sesuatu yang tidak mungkin; (3) jika determinisme adalah salah, tanggung jawab moral tentu sesuatu yang tidak mungkin; dan (4) karena itu, tanggung jawab moral adalah sesuatu yang tidak mungkin.</p>
<p>Seluruh isi buku yang ditulis Carlos Moya ini sebenarnya adalah usaha sistematis membuktikan atau lebih tepatnya meruntuhkan keempat argumen yang dikemukakan kaum skeptis tersebut.</p>
<p><strong>Kehendak Bebas Menyelamatkan Tanggung Jawab Moral</strong></p>
<p>Dalam bab pertama dan bab kedua buku <em>Moral Responsibility: The Ways of Scepticism</em>, Carlos Moya membahas premis pertama yang dikemukakan kaum skeptis sekaligus memusatkan perhatiannya pada premis kedua yang sebenarnya juga didukung kaum inkompatibilis (<em>incompatibilist argument</em>). Para pendukung inkompatibilis berpendapat bahwa tanggung jawab moral menuntut adanya akses kepada kemungkinan-kemungkinan alternatif pilihan dan tindakan (<em>alternate possibilities</em>). Karena determinisme menutup atau memblok akses kepada kemungkinan atau alternatif pilihan dan tindakan tersebut, maka tuntutan terhadap tanggung jawab moral tidak mendapatkan tempat. Di sini kaum skeptis dan kaum inkompatibilis menegasikan tanggung jawab moral.</p>
<p>Salah seorang filsuf yang sangat lantang mendukung inkompatibilisme tanggung jawab moral dan kebebasan adalah Peter van Inwagen. Dalam bukunya berjudul <em>An Essay on Free Will</em>, Inwagen mengatakan bahwa <em>“If determinism is true, then our acts are the consequences of the laws of nature and events in the remote past. But it is not up to us what went on before we were born, and neither is it up to us what the laws of nature are. Therefore, the consequences of these things (including our present acts) are not up to us</em> (Clarendon Press, Oxford: 1983, hlm. 56).</p>
<p>Apakah dengan demikian, determinisme memang harus diakui sebagai benar? Menurut Carlos Moya, kalau merujuk ke cara berpikir Inwagen dan para pendukung inkompatibilisme moral, jika determinisme benar, seluruh kejadian saat ini (termasuk seluruh tindakan manusia) adalah konsekuensi dari hukum alam. Karena tak ada seorang pun yang memiliki kuasa atas hukum alam dan seluruh kejadian yang telah lampau, maka tidak seorang pun yang mampu menghindari konsekuensi-konsekuensi yang ditimbulkan oleh hukum alam serta kejadian-kejadian masa lampau tersebut. Itu artinya logis saja mengatakan bahwa jika determinisme benar, kita tidak punya akses apa pun kepada <em>alternate possibilities</em> dalam tindakan kita. Sebagai pelaku moral, kita bertindak semata-mata berdasarkan perintah hukum alam yang deterministis tersebut, dan karena itu mustahil kita dituntut tanggug jawab.</p>
<p>Carlos Moya setuju bahwa <em>alternate possibilities</em> adalah kondisi niscaya bagi kebebasan dan tanggung jawab moral. Artinya, pelaku moral memiliki kemampuan melampaui determinisme sejauh dia memiliki kebebasan dalam memilih salah satu dari berbagai alternatif tindakan yang menampakkan diri padanya. Meskipun demikian, bagi Carlos Moya, absennya <em>alternate possibilities</em> tidak lantas berarti bahwa pelaku moral terbebaskan dari tanggung jawab moral atau pelaku moral tidak bisa dimintakan pertanggungjawaban moral. Alasannya, ada hal atau kasus tertentu di mana pelaku moral bertanggung jawab terhadap tindakan-tindakannya meskipun akses terhadap <em>alternate possibilities</em> tertutup sama sekali oleh determinisme. Dengan kata lain, pelaku moral akan tetap bertindak dalam cara tertentu tidak peduli seberapa besar ruang aksesnya terhadap <em>alternate possibilities</em> dan dia bertanggung jawab terhadap seluruh tindakan moralnya, bahkan ketika terjadi bahwa <em>“reason for decision and his decision come dramatically apart”</em> (CM: 2006, hlm. 53).</p>
<p>Apakah penolakan Carlos Moya terhadap determinisme sebagaimana dikemukakan argumentasi pertama di atas cukup meyakinkan? Untuk menjawab ini kita perlu memahami juga bagaimana Moya menyangkal argumentasi kedua. Pertanyaannya, apakah argumentasi kedua tersebut memang menjadi senjata pamungkas bagi kaum skeptik untuk menolak tanggung jawab moral ketika pelaku moral tidak memiliki <em>alternate possibilities </em>sama sekali? Apakah determinisme memberangus total <em>alternate possibilities</em>?</p>
<p>Menyimak pertanyaan ini kita sebenarnya teringat pada perdebatan klasik kelompok <em>compatibilist</em> dan kelompok <em>incompatibilist</em>. Kaum kompatibilis (<em>compatibilist</em>) berpendapat bahwa meskipun ada determinisme—segala sesuatu terjadi karena disebabkan oleh sesuatu sebelumnya—pelaku moral tetap memiliki tanggung jawab atas seluruh tindakan moralnya persis ketika dia memiliki kehendak bebas (<em>free will</em>). Jadi, misalnya apakah Anda akan melakukan tindakan korupsi atau tidak jika Anda bekerja di sebuah institusi dengan strukturnya yang memberi ruang bagi tindakan korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan? Kalau struktur insititusi yang <em>corrupted</em> tersebut diposisikan sebagai pendeterminasi tindakan, maka menurut kaum skeptis dan pembela inkompatibilisme (<em>incompatibilists</em>) seperti Peter van Inwagen, pelaku moral yang melakukan korupsi tidak bisa dimintai pertanggungjawaban moral. Sementara bagi pembela dan pendukung kompatibilisme moral, determinisme dan tanggung jawab moral tidak perlu diperlawankan. Justru ketika manusia memiliki kehendak bebas (<em>free will</em>), dia sebetulnya membuka diri kepada <em>alternate possibilities</em> atau kemungkinan tindakan. Dalam arti ini pelaku moral sebetulnya memiliki kemampuan untuk bertindak melampaui dikte determinisme (adanya <em>alternate possibilities</em>).</p>
<p>Salah satu filsuf yang secara sistematik beragumentasi mendukung pandangan kaum inkompatibilis adalah Harry Frankfurt. Dalam sebuah artikelnya berjudul <em><a href="http://links.jstor.org/sici?sici=0022-362X%2819691204%2966%3A23%3C829%3AAPAMR%3E2.0.CO%3B2-E">Alternate Possibilities and Moral Responsibility</a> </em>(Journal of Philosophy, Tahun 1969, No. 66, hlm. 829-839), Frankfurt menolak <em>alternate possibilities</em> sebagai prinsip yang mengafirmasi tanggung jawab moral. Penolakan semacam ini menimbulkan pertanyaan kritis apakah determinisme memang memiliki kemampuan memblok atau menutup akses pelaku moral kepada <em>alternate possibilities</em>? Nyatanya kebanyakan kita nyaris tidak pernah mempersoalkan <em>alternate possibilities</em> karena memang sejalan atau sesuai dengan intuisi kita tentang tanggung jawab moral. Kebanyakan kita justru beranggapan bahwa <em>alternate possibilities</em> adalah prinsip tindakan yang sanggup mempengaruhi <em>reasonable desire</em> tentang tanggung jawab moral, bahwa kita bisa mengontrol perilaku kita.</p>
<p>Apa konsekuensinya jika prinsip <em>alternate possibilities</em> sama sekali ditolak? Menolak prinsip ini bagi Moya sama saja dengan mendukung skeptisisme moral sebagaimana diusung David Hume dan para pendukungnya, bahwa dari sesuatu yang ada (<em>is</em>) kita tidak bisa menarik suatu keharusan (<em>ought</em>) (CM: 2006, hlm. 27). Lebih tegas lagi, bagi Moya, menolak prinsip <em>alternate possibilities</em> sama saja dengan menghancurkan dan membunuh etika itu sendiri. Tentang hal ini Moya memberi contoh berikut. Ketika kita mengecam tindakan seseorang, kita melakukan ini karena asumsi bahwa dia seharusnya (<em>she ought</em>) atau wajib bertindak sebaliknya (<em>alternate possibilities</em>). Dalam konteks etika praktis, menyangkal prinsip <em>alternate possibilities</em> sama artinya dengan mengamini tindakan tidak bermoral tertentu, hal yang dalam kehidupan bersama hampir mustahil ditolerir. Berhadapan dengan orang atau kelompok tertentu yang melanggar prinsip moral, kita justru mengecam atau menghujat tindakan-tindakan tersebut. Kecaman atau hujatan itu menunjukkan bahwa mereka seharusnya bertindak lain (<em>alternate possibilities</em>) dari tindakan aktual mereka.</p>
<p>Mari kita kembali ke cara beragumentasi kaum inkompatibilis. Mengikuti prinsip yang mereka usung, kegagalan bertindak dalam cara yang disepakati secara moral sebenarnya mengimplikasikan bahwa pelaku moral tidak mampu membebaskan diri dari determinisme. Bagi kaum inkompatibilis, kecaman kita terhadap mereka yang gagal mendasarkan tindakan pada prinsip moral tertentu tidaklah relevan dan gugur dengan sendirinya (CM: 2006, hlm. 27). Jika kita tetap bersikukuh mendesakkan tanggung jawab moral kepada pelaku moral tersebut, kita memberikan beban moral berlebihan kepada dia yang seharusnya tidak perlu dia pikul. Harry Frankfurt sebagai pendukung utama inkompatibilisme moral berpendapat bahwa jika kita membebankan tanggung jawab moral kepada pelaku moral demi menyelamatkan tanggung jawab moral sebagaimana kita asumsikan eksistensinya, kita justru membebani dia secara berlebihan dan melampaui apa yang seharusnya tidak ditanggungnya.</p>
<p>Apakah dengan begitu Harry Frankfurt berhasil menolak tanggung jawab moral sebagai hal yang kompatibel dengan kebebasan dan tindakan moral? (CM: 2006, hlm 28)? Carlos Moya membuktikan bahwa Harry Frankfurt tidak berhasil menolak prinsip <em>alternate possibilities</em>. Menurut Moya, apa yang dilakukan Frankfurt sebetulnya ingin menguji keyakinan intuisi kita, bahwa tangung jawab moral itu pasti ada karena adanya prinsip <em>alternate possibilities</em>. Tetapi ketika alternatif tindakan itu sama sekali tidak ada, misalnya karena paksaan atau tekanan seperti yang diasumsikan Frankfurt, apakah masih ada tanggung jawab moral? Menarik bahwa Carlos Moya mempertahankan prinsip alternatif tindakan justru dengan meminjam pemikiran van Inwagen yang sebenarnya seorang pendukung inkompatibilisme moral. Bagi Carlos Moya, di hadapan determinisme yang sangat keras sekali pun, setiap pelaku moral sebenarnya memiliki kemampuan mengoperasikan prinsip alternatif tindakan yang mungkin (<em>the principle of possible action</em>/PPA) yang intinya menegaskan bahwa <em>“a person is morally responsible for failing to perform a given act if he could have performed that act”</em> (CM: 2006, hlm. 30). Di sini Carlos Moya ingin menegaskan bahwa baik prinsip alternatif tindakan maupun PPA kedua-duanya sama-sama merupakan prinsip-prinsip tindakan (dilaksanakan atau tidak dilaksanakan) yang menuntut adanya tanggung jawab moral; jadi, bukan situasi atau kasus hipotesis. Prinsip ini akan semakin kuat jika ditambah dengan prinsip kemungkinan pencegahan (<em>principle of possible prevention</em>). Misalnya, ketika mengetahui adanya perampokan dan seseorang <em>tidak</em> menelpon polisi, dia dikecam karena tidak memiliki tanggung jawab. Tetapi ketika dia tidak menelpon karena jaringan telpon sedang rusak, dia tidak bisa dikecam atau dipersalahkan (CM: 2006, hlm. 32). Bahwa seseorang harus bertanggung jawab atas tindakan-tindakannya jika tindakan-tindakan tersebut ada dalam kemampuannya untuk melakukannya. Di sini baik determinisme, prinsip alternatif tindakan, maupun prinsip alternatif tindakan yang mungkin ketiganya diapresiasi dan diberi tempat.</p>
<p><strong>Tidak Cukup dengan Mengendalikan Determinisme</strong></p>
<p>Carlos Moya terus mendiskusikan masalah tanggung jawab moral ini di bab ketiga bukunya. Menarik untuk mencermati bagaimana Moya membela tanggung jawab moral di bab ini. Menurut dia, setiap pelaku moral bertanggung jawab atas tindakan-tindakannya bukan semata-mata karena dialah sumber atau alasan terjadinya sesuatu (CM: 2006, hlm 76), tetapi sekaligus juga bahwa tindakan-tindakannya itu dipuji atau dikecam. Pujian atau kecaman karena tindakan tertentu bukan pertama-tama karena pelaku moral menjadi sebab atau alasan terjadinya sebuah tindakan moral, tetapi lebih karena tindakan-tindakan moral tersebut bersifat evaluatif. Setiap tindakan yang sifatnya evaluatif dikategorikan sebagai tindakan moral. Tindakan moral menuntut justifikasi, karena itu tanggung jawab moral menjadi hal yang mutlak perlu bagi upaya justifikasi tindakan tersebut (CM: 2006, hlm. 77).</p>
<p>Meskipun demikian, ada kondisi-kondisi tertentu yang dituntut demi terjadinya tanggung jawab moral. Berhadapan dengan kuatnya serangan determinisme, Carlos Moya mengusulkan pentingnya memegang kendali dan tidak membiarkan diri dikuasai determinisme. Justru kemampuan memegang kendali inilah yang pada akhirnya menentukan apakah seorang pelaku moral pantas dipuji atau dicela secara moral (CM: 2006, hlm. 77). Bagaimana pelaku moral bisa memiliki kendali atau kontrol atas seluruh tindakan moralnya? Di sini Moya sebenarnya meminjam konsep Kantian tentang tanggung jawab moral, bahwa setiap pelaku moral yang rasional memiliki otonomi moral bukan saja karena dia tidak mendasarkan tindakan-tindakan moralnya pada prinsip-prinsip tindakan eksternal tertentu, tetapi juga karena kemampuannya menetapkan prinsip-prinsip tindakan yang rasional dan universal sebagai prinsip penjustifikasi seluruh perbuatan moralnya (CM: 2006, hlm. 78).</p>
<p>Pembelaan Moya terhadap tanggung jawab moral juga didasarkan pada tilikannya yang simpatik pada pemikiran kompatibilisme (klasik). Sebagaimana kita ketahui, kaum kompatibilis berpendapat bahwa tanggung jawab moral dan determinisme tidak perlu dipertentangkan karena keduanya bersifat koeksistensi. Justru berhadapan dengan kuatnya determinisme, tanggung jawab moral semakin dituntut karena manusia adalah makhluk yang memiliki kebebasan, termasuk kebebasan mengendalikan hasrat-hasratnya dan memutuskan tindakan apa yang diambil (CM: 2006, hlm. 80). Bahwa karena kebebasan dan kehendak bebas (<em>free will</em>), pelaku moral memiliki kemampuan menentukan-diri (CM: 2006, hlm. 82) dan memegang kendali atas seluruh tindakannya.</p>
<p>Pandangan kaum kompatibilis (klasik) ini mengandung kelemahan mendasar jika aspek  kebebasan dan kendali utama yang dipegang pelaku moral atas seluruh tindakan moralnya tidak didasarkan pada kehendak bebas (<em>free will</em>). Bagi pemikir inkompatibilis seperti Frankfurt, kebebasan yang dimiliki pelaku moral dalam menentukan tindakan-tindakannya belum mencerminkan apakah tindakan-tindakannya betul-betul merupakan tindakan moral atau tidak? Skeptisisme Frankfurt ini mendesak kita untuk menegaskan bahwa tindakan moral yang patut dimintai pertanggunganjawab hanyalah yang bersumber dari kehendak bebas, yakni kehendak untuk menentukan hasrat (<em>desire</em>) tertentu sebagai tindakannya dan mengesampingkan atau menolak merealisasikan hasrat-hasrat lainnya. Mengandalkan hanya aspek kebebasan dalam menentukan dan mengendalikan tindakan sebetulnya belum membedakan secara distingtif tindakan-tindakan manusia dan binatang. Tindakan yang betul-betul bebas harus berasal dari kehendak-bebas, yakni kehendak yang menginginkan dan memutuskan hasrat (<em>desire</em>) tertentu sebagai tindakannya. Baru pada tahap inilah seorang pelaku moral memiliki kebebasan bertindak (<em>freedom of action</em>) dalam artinya yang penuh (CM: 2006, hlm. 84-91).</p>
<p>Berbeda dengan prinsip kompatibilisme klasik dan kritik Frankfurt, cara Gary Watson membela tanggung jawab moral pun menarik dideskripsikan (CM: 2006, hlm. 91). Gary Watson sebagaimana diangkat Carlos Moya dalam bukunya, berpendapat bahwa kompatibilisme klasik tidak memadai karena menganalisis kebebasan hanya berdasarkan kontrol pelaku moral atas hasrat-hasratnya. Sementara pandangan Frankfurt pun belum menyentuh ke persoalan bagaimana pelaku moral dapat menginginkan hasratnya tertentu dan mengeliminasikan hasrat-hasrat lainnya? Watson memperlihatkan bahwa ada semacam mekanisme psikologis yang beroperasi dalam diri manusia ketika harus menentukan tindakan-tindakan tertentu yang harus diambil.</p>
<p>Bagi Watson, manusia sebenarnya tidak hanya memiliki hasrat tetapi juga nilai-nilai (<em>values</em>). Ketika timbul hasrat tertentu untuk melakukan tindakan tertentu, manusia sebagai mahkluk rasional melakukan apa yang disebut <em>“rational judging” </em>(CM: 2006, hlm. 92). Hasrat yang memicu tindakan dievaluasi dan diputuskan secara rasional dengan mengacu kepada nilai-nilai tertentu dari pelaku moral. Nilai-nilai yang pro kepada hasrat tertentu yang menguatkan tindakan moral tertentu membuat sebuah hasrat menjadi keinginan-yang-rasional (<em>rational want</em>), sementara hasrat-hasrat lainnya tetap tinggal sebagai sekadar hasrat (<em>mere desire</em>). Demikianlah, melalui proses psikologis semacam inilah seorang pelaku moral menimbang, memutuskan, dan mengambil tindakan-tindakan moralnya setiap hari. Dalam konteks ini pula tanggung jawab moral melekat erat pada tindakan-tindakan rasional setiap pelaku moral.</p>
<p>Melalui referensi kepada berbagai pemikiran semacam inilah Carlos Moya menegaskan posisi pemikirannya, bahwa tanggung jawab moral tidak pernah bisa dipisahkan dari setiap tindakan moral. Bagi Carlos Moya, kalau pun determinisme benar, tanggung jawab moral tidak harus dipertentangkan dengannya. Justru melalui memahami secara benar apa itu kebebasan, apa itu kehendak bebas, serta mekanisme psikologis dalam pengambilan keputusan dan tindakan moral, kita dapat memahami secara lebih baik apa itu tanggung jawab moral (CM: 2006, hlm. 112-113). Di tangan Carlos Moya, tanggung jawab moral “diselamatkan” oleh konsep mengenai kehendak bebas, kemampuan menentukan diri, kemampuan mengendalikan determinisme melalui berbagai pertimbangan rasional yang mengatasi dorongan atau hasrat, serta kemampuan melakukan pilihan tindakan moral berdasarkan referensi pada nilai-nilai tertentu.</p>
<p><strong>Kemampuan Menghadapi Pluralisme Moral</strong></p>
<p>Sebagaimana dideskripsikan di atas, bab ketiga buku ini khusus membahas premis ketiga, bahwa jika determinisme betul, maka tanggung jawab moral tidak ada. Ini karena tanggung jawab moral mengandaikan adanya kontrol akhir pelaku moral atas tindakan-tindakannya. Karena determinisme telah menolak kontrol atau pemegang kendali, tanggung jawab moral dengan sendirinya pun ikut dinegasikan. Demikianlah, bab tiga buku ini antara lain mendiskusikan penolakan terhadap tangung jawab moral dengan menegasikan kemampuan pelaku moral sebagai pengendali akhir atas seluruh tindakan moralnya.</p>
<p>Masih membahas masalah tanggung jawab moral, bab keempat buku ini membahas “penolakan” kelompok kompatibilisme moral terhadap tanggung jawan moral. Meskipun para pendukung kompatibilisme moral tidak mempertentangkan determinisme dan tanggung jawab dalam tindakan moral sebagai dua hal yang saling meniadakan, mereka tetap menetapkan semacam kondisi tertentu yang harus dipenuhi agar pelaku moral memiliki tanggung jawab moral atas tindakan-tindakannya. Bagi kaum kompatibilis, <em>alternate possibilities</em> adalah kondisi yang perlu (<em>necessary condition</em>) bagi tanggung jawab moral, tetapi belum menjadi kondisi yang memadai (<em>sufficient condition</em>). Menurut Carlos Moya, kaum kompatibilis memandang pembedaan ini penting karena mereka berpendapat bahwa pada saat pelaku moral mengeksekusi tindakan moral tertentu (<em>chosen action</em>), bisa saja terjadi bahwa pilihan tindakan tersebut diambil secara serampangan (<em>arbitrary</em>). Bagi mereka, pelaku moral tidak bertanggung jawab atas tindakan-tindakannya jika keputusan untuk bertindak diambil secara serampangan. Hal yang sama juga terjadi ketika eksekusi tindakan moral tertentu dipengaruhi oleh manipulasi eksternal (<em>external manipulation</em>) tertentu di mana pelaku moral tidak menjadi pengontrol akhir seluruh tingkah laku moralnya. Demikianlah, <em>alternate possibilities</em> sekaligus bisa menjadi <em>sufficient condition</em> jika berbagai kondisi kontrol diperhatikan, entah itu pengontrol akhir yang dimainkan pelaku moral atas tindakan-tindakannya maupun manipulasi eksternal tertentu yang turut mempengaruhi eksekusi tindakan moral (CM: 2006, hlm 114-115).</p>
<p>Carlos Moya sebetulnya setuju, bahwa <em>control condition</em> merupakan aspek yang penting untuk diperhatikan dalam tindakan moral, karena aspek ini menggarisbawahi kebebasan manusia. Dengan mempertimbangkan secara sungguh-sunggu berbagai kondisi pengontrol ini membantu kita untuk membedakan tindakan-tindakan moral mana yang eksekusinya sangat dikondisikan oleh manipulasi eksternal tertentu, dan perilaku moral mana yang sungguh-sungguh merukan pilihan bebas pelaku moral. Dalam arti ini Carlos Moya mengapresiasi cara berpikir kritis kaum kompatibilis, bahwa <em>alternate possibilities</em> hanya bisa menjadi prinsip yang memberi ruang bagi kemungkinan pelaku moral melampaui determinisme moral jika prinsip tersebut menjadi kondisi yang perlu maupun kondisi yang niscaya. Carlos Moya kemudian menambahkan kemampuan refleksi evaluatif (<em>evaluative reflection</em>) sebagai aspek lain yang tidak kalah penting dalam upaya pelaku moral melampaui determinisme moral. Bagi Moya, dengan kemampuan refleksi evaluatif, pelaku moral yang inteligen dan rasional dapat dengan bebas memilih tindakan-tindakannya dan menjadi pengontrol akhir seluruh perilakunya (CM: 2006, hlm 115). Moya melihat bahwa inilah faktor-faktor konstitutif yang menentukan kadar tanggung jawab moral setiap pelaku moral. Bagi Moya, setiap tindakan moral mengandung tanggung jawab moral jika tindakan tersebut diambil oleh pelaku moral yang rasional dan inteligen, yang mengeksekusi tindakan-tindakannya bukan secara serampangan (<em>arbitrary</em>), tetapi berdasarkan pertimbangan rasional dan pilihan atas prinsip moral tertentu. Inilah kemampuan refleksi evaluatif yang menampilkan sekaligus berbagai pilihan tindakan dan mengeksekusi tindakan moral tertentu yang paling bisa dipertanggungjawabkannya (CM: 2006, hlm 116).</p>
<p>Harus diakui, semua yang dideskripsikan di sini adalah keadaan atau kondisi ideal. Pertanyaannya, apakah seorang pelaku moral tidak bertanggung jawab atas tindakan-tindakan moralnya jika dia bukanlah pengontrol terakhir (<em>the ultimate control</em>) atas tindakan-tindakan tersebut? Jadi misalnya, apakah si A tidak bisa dipersalahkan secara moral jika tindakan korupsi yang melibatkan dirinya terjadi karena sistem birokrasi kekuasaan di mana dia menjadi bagiannya “mengharuskan” demikian? Carlos Moya berpendapat bahwa tanggung jawab moral tidak harus diakui atau dinegasi dengan hanya melihat apakah pelaku moral merupakan pengontrol terakhir atas tindakan-tindakannya atau tidak. Demi mempertahankan argumennya ini, Carlos Moya memperdalam makna konsep “pengotrol terakhir” (<em>utlimate control</em>) tersebut. Apa yang dimaksud dengan “pengontrol terakhir” dan bagaimana kita memahaminya secara proporsional sebagai kondisi yang niscaya bagi tanggung jawab moral?</p>
<p>Menurut Carlos Moya, <em>ultimate control</em> terdiri dari kata <em>“ultimacy”</em> dan <em>“control”</em>. <em>Ultimacy</em> menekankan aspek <em>“the absence of sufficient antecedent causes, beyond the agent’s reach, of the controlling factor, be it a practical judgement, a choice, or even the agent herself</em>”;  dan ini menentukan pelaku moral sebagai <em>the ultimacy</em> (CM: 2006, hlm. 117). Sementara itu, dengan <em>control</em> dimaksud untuk menekankan aspek rasional, volisional, evaluatif dari tindakan moral. Demikianlah, Si A adalah <em>the ultimacy</em> jika dia tidak dipengaruhi atau didikte oleh faktor pengontrol eksternal apapun. Ketika hendak mengeksekusi tindakan moral tertentu, Si A adalah pelaku moral yang rasional, yang memiliki kehendak, yang berkat refleksi evaluatifnya mampu mengambil tindakan moral tertentu yang dapat dipertanggungjawabkannya.</p>
<p>Lagi-lagi ini adalah gambaran kondisi ideal dalam pengambilan keputusan moral. Bagi Moya, sebetulnya dalam kehidupan praktis, sulit menemukan seorang pelaku moral menjadi sumber terakhir (<em>ultimate source</em>) sekaligus pengontrol terakhir (<em>ultimate control</em>) pada saat yang bersamaan dalam tindakan-tindakan moralnya sebagaimana dicita-citakan Immanuel Kant. Setiap pelaku moral biasanya berusaha menjaga keseimbangan antara kedua aspek tersebut (CM: 2006, hlm 117). Pengontrol terakhir (<em>ultimate control</em>) memang mengafirmasi eksistensi kebebasan; bahwa eksekusi tindakan-tindakan tertentu oleh pelaku moral benar-benar berasal dari kehendak bebasnya. Meskipun demikian, menurut Moya, kehendak bebas bukanlah tidak dipengaruhi oleh situasi partikular dan keadaan politik ketika tindakan moral diambil (CM: 2006, hlm 122). Dalam arti ini naiflah kita mengharapkan pelaku moral menjadi sumber terakhir (<em>ultimate source</em>) dan satu-satunya sumber bagi seluruh tindakan moralnya. Memang pelaku moral rasional sebagai <em>the ultimacy</em> sebagaimana juga dicita-citakan Kant tetap menjadi faktor penting, misalnya ketika kita ingin mendesakkan nilai-nilai moral tertentu supaya menjadi nilai moral publik. Di sini pelaku moral sebagai sumber terakhir prinsip moral mengindikasikan adanya otentisitas di mana kehendak bebas (<em>free will</em>) terkespresikan secara penuh dalam diri pelaku moral selaku sumber terakhir (CM: 2006, hlm 123). Tetapi sekali lagi kondisi ideal ini tidak harus membelenggu atau menyandera tanggung jawab moral ketika siatuasi partikular tertentu atau keadaan politis tertentu ikut mewarnai pengambilan keputusan moral manusia. Di sinilah Carlos Moya melihat bahwa tantangannya bukan pada sejauh mana otentisitas semakin tinggi yang juga memurnikan kehendak bebas, tetapi pada bagaimana pelaku moral menghadapi apa yang disebut <em>“the problem of plurality”</em> (CM: 2006, hlm 127). Pada akhirnya otentisitas atau kualitas moral setiap pelaku moral ditentukan bukan oleh kadar <em>the ultimacy</em> tetapi oleh kemampuannya menentukan pilihan moral di hadapan beraneka ragam pilihan moral yang tersedia.</p>
<p><strong>Berpihak pada Keyakinan Moral?</strong></p>
<p>Di atas telah diperlihatkan bahwa ketika menegaskan tanggung jawab moral, Carlos Moya membedakan dua konsep penting, yakni “sumber terakhir” (<em>the ultimate source</em>) dan “kontrol rasional” (<em>rational control</em>). Apakah pembedaan semacam ini sanggup menjadi jalan keluar yang meyakinkan untuk menegaskan tanggung jawab moral?</p>
<p>Pertanyaan ini berhubungan dengan keraguan yang dikemukakan Galen Strawson, bahwa <em>“true self-determinination is logically impossible”</em> (CM: 2006, hlm. 145). Alasannya, <em>“true sel-determinination”</em> menuntut adanya <em>actual completion</em> dari dari pilihan-pilihan tindakan yang harus dipertahankan secara konsisten (tidak boleh mengalami apa yang disebut sebagai <em>“infinite regress”</em>). Jadi, misalnya seorang pelaku moral berada dalam situasi pilihan moral, apakah harus melakukan korupsi atau tidak? Mengikuti prinsip <em>ultimacy of source</em> dan <em>rational control</em>, harus dikatakan bahwa pelaku moral memang sedang menghadapi sebuah situasi dilema moral  (situasi<em>ku</em> atau kesadaran bahwa ada dilema moral yang sedang <em>ku</em>hadapi). Kesadaran semacam inilah yang memicu nalar (<em>reason</em>) untuk melakukan refleksi evaluatif. Begitu pelaku moral mengeksekusi sebuah prinsip penjustifikasi tindakan, prinsip tersebut tidak hanya bersifat rasional, tetapi juga menunjukkan originalitas tindakan, bahwa itu adalah tindakan moral si A (tindakan<em>ku</em>). Tanggung jawab moral lalu terkait erat dengan pilihan rasional tindakan moral tersebut. Eksekusi tindakan berdasarkan prinsip penjustifikasi tertentu ini yang diistilah sebagai <em>actual completion</em>, apa yang sehari-hari kita sebut sebagai tindakan konkret tertentu berdasarkan prinsip moral tertentu. Agar pelaku moral dapat menentukan diri secara otentik (<em>true self-determination</em>), eksekusi tindakan moral berdasarkan prinsip penjustifikasi tertentu itu tidak boleh mengalami kemunduran dalam arti pelaku moral harus konsisten mendasarkan perilakunya pada prinsip penjustifikasi yang telah ditetapkannya tersebut.</p>
<p>Bagi Strawson, masalahnya tidak semudah itu. Tindakan moral yang dipilih (<em>actual completion</em>) seringkali justru menunjukkan adanya <em>infinite regress</em> dari prinsip-prinsip pilihan. Dengan kata lain, hampir mustahil mengharapkan pelaku moral selalu bertindak secara konsisten sesuai prinsip penjustifikasi tindakan yang telah dipilihnya, padahal pluralisme moral telah menjadi fakta keras yang harus dihadapinya. Lebih lanjut Strawson juga melihat bahwa pilihan tindakan yang diambil secara rasional sering tidak secara otomatis bersifat ultim. Tindakan seringkali didorong oleh pilihan individu atau pilihan pelaku moral berdasarkan keadaan atau konstitusi batin (<em>mental constitution</em>) tertentu, apa yang disebut juga sebagai “karakter” yang pembentukannya ikut dipengaruhi oleh situasi aktual tertentu (CM: 2006, hlm 145).</p>
<p>Di sinilah Carlos Moya melihat perlunya sikap kritis terus-menerus terhadap tanggung jawab moral. Apakah dengan menegaskan atau mengafirmasi tanggung jawab moral, kita telah berhasil memenangkan perdebatan melawan determinisme? Carlos Moya mengingatkan kita, bahwa seluruh pendekatan dan diskusi yang dikemukakan di atas yang mencoba membedakan pelaku moral sebagai sumber ultim (<em>ultimate source</em>) dan sebagai pengontrol rasional (<em>rational control</em>) semuanya menekankan secara berlebihan kemampuan kehendak (<em>will</em>) dan semua hal yang berhubungan dengannya, terutama pilihan-pilihan tindakan (<em>choices</em>). Bahwa si A bertanggung jawab atas tindakan-tindakan moralnya karena dia memilih bertindak dalam cara tertentu sesuai prinsip moral tertentu yang telah dipilihnya (secara rasional). Masalahnya, ketika pemahaman seperti ini diragukan atau ditolak—Strawson sebagai satu contoh filsuf yang menolak sikap percaya berlebihan pada kemampuan kehendak bebas (<em>free will</em>) pelaku moral—apa yang bisa ditegaskan? Apakah tanggung jawab moral itu tidak ada ketika kehendak (<em>will</em>) telah ditolak sebagai bagian integral dari pilihan dan tindakan moral? Sembari menekankan pentingnya selalu bersikap kritis terhadap setiap pertimbangan dan refleksi moral, Carlos Moya menawarkan gagasannya, bahwa masalahnya bukan semata-mata terletak pada bagaimana pelaku moral memilih tindakan-tindakan moralnya secara rasional (<em>choices</em>) dan menghendaki tindakan tersebut sebagai tindakannya sendiri, tetapi lebih pada bagaimana pelaku moral meyakini bahwa pilihan dan tindakan moralnya adalah tepat dan dapat dipertanggungjawabkan. Dalam hal ini Carlos Moya memberikan penekanan pada keyakinan moral (<em>beliefs</em>) sebagai semacam jalan keluar mengatasi serangan determinisme terhadap tanggung jawab dalam pengambilan keputusan dan tindakan moral (CM: 2006, hlm 147).</p>
<p>Untuk menjelaskan posisi pemikirannya mengenai keyakinan moral, Carlos Moya merujuk ke pemikiran Bernard William (1973), salah seorang filsuf moral abad ke-20, terutama dalam karyanya berjudul <em>Problems of the Self</em> (Cambridge University Press, 1973). Berbeda dengan pengambilan keputusan moral yang sepenuhnya diarahkan atau dikendalikan oleh kehendak (<em>will-oriented</em> atau <em>cognitive orientation</em>), Bernard William justru berpendapat bahwa pengambilan keputusan moral harus tidak dikendalikan oleh  kontrol kehendak, dan keyakinanlah (<em>belief</em>) yang tidak dikendalikan atau dikontrol oleh kehendak. Mengutip Bernard William, Carlos Moya menulis, <em>“beliefs are not under our direct voluntary control, for there is not much room for deciding to believe”</em> (CM: 2006, hlm 152). Mengapa pengambilan keputusan moral harus dibebaskan dari kontrol atau kendali kehendak? Carlos Moya berpendapat, bahwa tujuan tertinggi dari setiap pengambilan keputusan moral adalah kebenaran (<em>truth</em>), dan kebenaran tersebut bukan merupakan hasil dari sebuah refleksi evaluatif pelaku moral, tetapi penyingkapan kebenaran pada dirinya. Demikianlah, Si A memilih untuk berbohong demi kebaikan mayoritas orang, misalnya (perspektif utilitarisme), pilihan tindakan ini diambil bukan karena kepatuhan pada prinsip <em>“the greatest good for the greatest number of people”</em> sebagai hasil dari kalkulasi rasional manusia, tetapi merupakan semacam penyingkapan atas kebenaran pada dirinya sendiri (CM: 2006, hlm. 153). Carlos Moya menulis, <em>“Beliefs aim to conform themselves to the way things actually are, whereas, for example, decisions and desires aim to change the world so that it conforms to them”</em> (CM: 2006, hlm 153).</p>
<p>Persoalannya, apakah cukup memadai jika pelaku moral mendasarkan atau menjustifikasi tindakan-tindakannya pada keyakinan tertentu? Sejauh mana keyakinannya tersebut sungguh-sungguh merupakan penyingkapan atau pengungkapan atas prinsip penjustifikasi tindakan yang eksistensinya bukan merupakan hasil akhir dari sebuah proses penalaran moral (<em>moral reasoning</em>)? Apakah keyakinan memiliki eksistensi pada dirinya sendiri, jadi memiliki karakter substantif, atau tetap merupakan buah dari sebuah penalaran moral?</p>
<p>Pertanyaan semacam ini tidak mudah dijawab secara meyakinkan, dan tampaknya Carlos Moya menyadari hal ini. Sebagai jalan keluar, Moya mengatakan bahwa tidak semua keyakinan (<em>beliefs</em>) relevan dalam mendasarkan tanggung jawab moral. Bagi dia, hanya keyakinan evaluatif (<em>evaluative beliefs</em>) yang dapat diacu sebagai prinsip penjustifikasi tindakan dan tanggung jawab moral (CM: 2006, hlm. 157). Di sini keyakinan evaluatif yang Carlos Moya maksudkan adalah jenis keyakinan yang memiliki isi evaluatif, dengan dua karakteristik utama, yakni (1) kemampuan mengekspresikan cara bagaimana seorang pelaku moral memahami kehidupan manusia yang pantas dihidupi [<em>the way a person conceives of a human life that is worth living</em>]; dan (2) memiliki konsekuensi-konsekuensi potensial sebagai kriteria bagi pilihan dan patokan bagi tindakan [<em>and should have potential consequences as a criterion for choice and a guide for action</em>] (CM: 2006, hlm. 157).</p>
<p>Bagaimana keyakinan (<em>beliefs</em>) sebagai prinsip penjustifikasi tindakan dan tanggung jawab moral ini bisa diaplikasikan? Bayangkan Si A sedang menghadapi sebuah masalah moral di mana dia harus menentukan sikap dan tindak moral yang harus diambilnya. Bagaimana si A dapat merujuk pada keyakinan sebagai pembimbing tindakan moral? Carlos Moya berpendapat bahwa dalam situasi demikian, Si A harus mengoperasikan keyakinan evaluatif (<em>evaluative beliefs</em>) secara benar yang sebetulnya sudah ada dalam dirinya sendiri melalui (1) pengungkapan secara jujur nilai-nilai yang dianut Si A; (2) sikap atau putusan partikular mengenai situasi konkret tertentu yang dihadapi; dan (3) pilihan-pilihan aktual serta tindakan konkret Si A sendiri.</p>
<p>Bagi Carlos Moya, proses pengoperasian keyakinan evaluatif ini hanya mungkin terjadi jika lima kondisi utama terpenuhi, yakni (1) kemampuan Si A menghubungkan nilai yang dianutnya dengan tanggung jawab moral yang lebih besar yang sifatnya askriptif (mewajibkan); dan bahwa prinsip umum yang askriptif tersebut adalah inti atau pusat atau pengatur perilaku moral dari Si A; (2) prinsip-prinsip moral umum yang sifatnya askriptif itu harus benar-benar merupakan prinsip penjustifikasi tindakan moral Si A secara aktual; (3) Si A harus memiliki kontrol yang rasional terhadap keyakinan-keyakinan moralnya sendiri, bahwa keyakinan-keyakinan tersebut harus bisa dipertanggungjawabkan secara rasional; (4) prinsip moral tersebut harus menjadi prinsip penjustifikasi setiap tindakan moral, bahkan terjadi bahwa kadang-kadang pelaku moral bertindak bertentangan dengannya; dan (5) pelaku moral tidak bersikap dogmatis terhadap prinsip-prinsip tindakannya tetapi justru harus memiliki alternatif prinsip tindakan yang bisa dirujuk jika prinsip moral yang berlaku sekarang sudah tidak memadai lagi (CM: 2006, hlm. 157).</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Mengikuti seluruh argumentasi yang dibangus Carlos Moya dalam bukunya, sebetulnya senjata paling andal yang digunakan melawan determinisme adalah nalar (<em>reason</em>). Kita dapat memahami pilihan argumentasi Carlos Moya ini dari sudut epistemologis maupun etis.</p>
<p>Secara epistemologis, Carlos Moya melanjutkan warisan sikap kritis Cartesian yang mewajibkan setiap penahu mempertanggungjawabkan putusan dan pengetahuannya secara jelas dan terpilah-pilah (<em>clara et distincta</em>) sebagai tuntutan <em>natural lights</em> yang wajib dipenuhi dalam setiap produksi pengetahuan (<em>scientia</em>). Pengetahuan yang jelas dan terpilah-pilah pada gilirannya mampu membebaskan penahu dari sikap dogmatis dan kepercayaan naïf pada pengetahuan atau keyakinan tertentu yang sebetulnya bukan pengetahuan tetapi sekadar opini yang tidak didukung oleh bukti yang memadai (<em>sufficient evidence</em>).</p>
<p>Dalam arti ini sebetulnya tradisi-tradisi besar etika—taruhlah deontologisme dan utilitarisme—sebenarnya dapat dibaca dalam konteks usaha rasional mendasarkan prinsip penjustifikasi tindakan bukan pada prinsip-prinsip arkaik atau prinsip-prinsip dogmatis tertentu yang sifatnya eksternal (heteronomi moral), tetapi pada prinsip penjustifikasi tindakan yang dapat diuniversalkan (<em>universalizability principle</em>). Dalam terang dua tradisi besar etika ini kita mengerti betapa pelaku moral memiliki tanggung jawab terhadap seluruh pilihan dan tindakan moralnya persis ketika prinsip penjustifikasi tindakan dikonstruksi dan dikritisi sebegitu rupa sesuai tujuan akhir yang ingin dicapai.</p>
<p>Secara etis, prinsip penjustifikasi yang dijadikan sebagai dasar tindakan tidak hanya memiliki karakter <em>clear and distinct</em>, tetapi justru memiliki kandungan bukti yang memadai (<em>sufficient evidence</em>). Rujukan Carlos Moya kepada etika keyakinan (<em>ethics of belief</em>) sebenarnya wajar jika ditempatkan dalam konteks usaha mengatasi atau melampaui determinisme kehendak (<em>will</em>).</p>
<p>Menarik dicatat, kehendak (<em>will</em>) memang mampu membebaskan pelaku moral dari kutukan determinisme. Artinya, pilihan untuk menghendaki sebuah tindakan moral sebagai tindakan<em>ku</em> mampu melepaskan diri dari belenggu determinisme, bahwa tindakan moral ditentukan sepenuhnya oleh prinsip atau mekanisme tertentu yang <em>pre-established</em>. Meskipun demikian, tampaknya Carlos Moya sadar benar, bahwa kehendak (<em>will</em>) dapat menjadi determinisme baru jika seluruh pengambilan keputusan dan tindakan moral dipercayakan begitu saja pada kehendak bebas (<em>free will</em>) dalam menentukan tindakan moral pasca proses kritisisme prinsip moral dan kontrol rasional (<em>rational control</em>).</p>
<p>Merujuk ke epistemologi Descartes, kita bisa memahami kegundahan Carlos Moya ini dan alasan mengapa dia mengusukan etika keyakinan (<em>ethics of belief</em>) sebagai senjata pamungkas membela tanggung jawab moral menghadapi serangan determinisme. Descartes menegaskan dalam <em>Meditation,</em> bahwa ketika membuat sebuah putusan, <em>“it is clear by the natural light that perception of the intellect should always precede</em> [praecedere simper debere] <em>the determination of the will”</em> (1641, 7: 60). Dari sinilah para pembela etika keyakinan merumuskan <em>credo</em> mereka, bahwa sebagai pelaku moral “we are <em>always</em> obliged to have sufficient evidence for <em>every one of</em> our beliefs” (Andrew Chignell, 2010, hlm. 2). Demikialah, pilihan mendasarkan tindakan pada prinsip moral tertentu selalu didasarkan pada keyakinan (<em>belief</em>) bahwa prinsip moral tersebut didukung oleh bukti yang memadai (<em>sufficient evidence</em>). Menyimak kondisi-kondisi yang dipersyaratkan Carlos Moya bagi beroperasinya keyakinan evaluatif (<em>evaluative belief</em>), di situ tampak jelas bagaimana tuntutan bukti yang memadai (<em>sufficient evidence</em>) sungguh diberi tempat.</p>
<p>Tampaknya Carlos Moya bukan seorang <em>evidentialist</em> murni yang bersikukuh mempertahankan keyakinan, bahwa setiap keyakinan moral selalu dan harus didasarkan pada bukti yang memadai (<em>bdk</em>. Andrew Chignell, 2010, hlm. 3). Keterbukaan pada alternatif prinsip tindakan moral dan sikap kritis terhadap prinsip tindakan yang dipilih pelaku moral saat ini tampaknya memberi tempat bagi prinsip <em>prima facie</em> yang selain sangat didukung oleh kaum <em>non-evidentialist</em> semacam William James, juga lebih diterima sebagai penjustifikasi prinsip moral yang memadai (<em>sufficient</em>). Dalam arti ini usaha Carlos Moya membela dan mempertahankan tanggung jawab moral melawan serangan determinisme harus dikatakan berhasil dan memuaskan.***</p>
<p><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></p>
<p>Bourke, John, <em>Responsibility, Freedom and Determinism</em>, Philosophy, Vol. 13, No. 51 (Jul., 1938), pp. 276-287, Cambridge University Press on behalf of Royal Institute of Philosophy, 1938. Stable URL: <a href="http://www.jstor.org/stable/3746126">http://www.jstor.org/stable/3746126</a> Last Accessed: 16/08/2010 02:08.</p>
<p>Carlos J. Moya, <em>Moral Responsibility: the Ways of Scepticism</em>, Routledge, London and New York, 2006.</p>
<p>Chignell, Andrew, <em>Ethics of Belief</em>, Stable URL:  <a href="http://plato.stanford.edu/entries/ethics-belief/">http://plato.stanford.edu/entries/ethics-belief/</a> (Accessed August 18, 2010, 7:20 AM).</p>
<p>Deery, Oisin, <em>Extending Compatibilism: Control, Responsibility, and Blame</em>, Res Publica 13:209–230, Springer, 2007.</p>
<p><a href="http://www.ualr.edu/%7Ephilosophy/faculty/eshleman.htm" target="other">Eshleman</a>, Andrew, <em>Moral Responsibility</em>, Stable URL: <a href="http://plato.stanford.edu/entries/moral-responsibility/">http://plato.stanford.edu/entries/moral-responsibility/</a>, (Accessed August 18, 2010, 7:10 AM).</p>
<p><a href="http://www.fsu.edu/%7Ephilo/new%20site/staff/mckenna.htm" target="other">McKenna</a>, Michael, <em>Compatibilism</em>, Stable URL:  <span style="text-decoration:underline;"><a href="http://plato.stanford.edu/entries/compatibilism/">http://plato.stanford.edu/entries/compatibilism/</a></span> (Accessed August 18, 2010, 7:06 AM).</p>
<p>O’Connor, Timothy, <em>Free Will</em>, Stable URL: <a href="http://plato.stanford.edu/entries/freewill/">http://plato.stanford.edu/entries/freewill/</a> (Accessed August 18, 2010, 7:06 AM).</p>
<p>Ryan, Sharon, <em>Doxatic Compatibilism and the Ethics of Belief</em>, Philosophical Studies 114: 47–79, Kluwer Academic Publishers, Netherlands, 2003.</p>
<p>Smythe, Thomas W., <em>Moral Responsibility</em>, The Journal of Value Inquiry 33: 493–506, Kluwer Academic Publishers, 1999.</p>
<p>Vihvelin, Kadri, <em>Arguments for Incompatibilism</em>, Stable URL:  <span style="text-decoration:underline;"><a href="http://plato.stanford.edu/entries/incompatibilism-arguments/">http://plato.stanford.edu/entries/incompatibilism-arguments/</a></span> (Accessed August 18, 2010, 7:04 AM).</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kuliahfilsafat.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kuliahfilsafat.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kuliahfilsafat.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kuliahfilsafat.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kuliahfilsafat.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kuliahfilsafat.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kuliahfilsafat.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kuliahfilsafat.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kuliahfilsafat.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kuliahfilsafat.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kuliahfilsafat.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kuliahfilsafat.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kuliahfilsafat.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kuliahfilsafat.wordpress.com/138/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kuliahfilsafat.wordpress.com&amp;blog=6335470&amp;post=138&amp;subd=kuliahfilsafat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kuliahfilsafat.wordpress.com/2010/11/12/tanggung-jawab-moral/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a31301db44191714f039d13a621cb8c4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kuliahfilsafat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Merefleksikan Berbagai Pengetahuan</title>
		<link>http://kuliahfilsafat.wordpress.com/2010/06/15/merefleksikan-berbagai-pengetahuan/</link>
		<comments>http://kuliahfilsafat.wordpress.com/2010/06/15/merefleksikan-berbagai-pengetahuan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Jun 2010 04:51:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kuliahfilsafat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filsafat Ilmu Pengetahuan]]></category>
		<category><![CDATA[epistemologi]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat pengetahuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kuliahfilsafat.wordpress.com/?p=135</guid>
		<description><![CDATA[Apa itu pengetahuan (knowledge)? Seberapa yakinkah manusia sebagai “penahu” mengetahui sesuatu? Apakah pengetahuan mengenai sesuatu itu merupakan gambaran lengkap mengenai sesuatu? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi bagian dari perkara filsafat pengetahuan. Kita bisa memulai menjawabnya dengan membedakan berbagai pengetahuan yang kita kenal, katakan saja pengetahuan sehari-hari (1), pengetahuan filsafat (2), pengetahuan teologis (3), pengetahuan mistik (4), pengetahuan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kuliahfilsafat.wordpress.com&amp;blog=6335470&amp;post=135&amp;subd=kuliahfilsafat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;">Apa itu pengetahuan (<em>knowledge</em>)? Seberapa yakinkah manusia sebagai “penahu” mengetahui sesuatu? Apakah pengetahuan mengenai sesuatu itu merupakan gambaran lengkap mengenai sesuatu? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi bagian dari perkara filsafat pengetahuan. Kita bisa memulai menjawabnya dengan membedakan berbagai pengetahuan yang kita kenal, katakan saja pengetahuan sehari-hari (1), pengetahuan filsafat (2), pengetahuan teologis (3), pengetahuan mistik (4), pengetahuan jurnalistik (5), dan pengetahuan ilmiah (6).</p>
<p>Seluruh catatan yang ada di sini masih berupa refleksi pendahuluan, karena itu masih sangat jauh dari memadai. Sumbangan pemikiran dan gagasan Anda melalui kolom tanggapan akan memperkaya refleksi filosofis mengenai pengetahuan.</p>
<p><strong>1.   Pengetahuan sehari-hari</strong></p>
<p><strong><em>a.   Pengertian</em></strong></p>
<p>Apa itu pengetahuan masih menjadi perdebatan serius di kalangan para filsuf dalam cabang filsafat epistemologi. Definisi klasik apa itu pengetahuan dikemukakan Plato yang mengatakan bahwa sebuah pernyataan hanya dapat dipandang sebagai pengetahuan jika memenuhi 3 kriteria utama, yakni harus bisa dibuktikan (justified), harus benar, dan layak menjadi keyakinan. Pendapat ini oleh kebanyakan filsuf sekarang tidak dipandang sebagai kriteria yang memadai mengenai apa itu pengetahuan. Robert Nozick, seorang filsuf ilmu abad ini, misalnya, mengatakan bahwa sebuah proposisi hanya bisa diterima sebagai pengetahuan jika mengandung 4 kriteria utama: (1) sebuah pernyataan adalah pengetahuan jika pernyataan itu benar; (2) jika seseorang atau sebuah komunitas percaya bahwa pernyataan itu memang benar; (3) kalau jika pernyataan itu salah (jadi bukan sebuah pengetahuan), maka subjek atau komunitas juga harus menerimanya sebagai salah; dan (4) sebuah proposisi adalah benar (bukan kondisional lagi seperti syarat pertama tetapi faktual), maka subjek atau komunitas harus menerima kebenaran itu sebagai kebenaran yang bisa diandalkan.</p>
<p>Kondisi pengetahuan semacam ini pasti berbeda dengan keyakinan kaum positivis mengenai pengetahuan. Filsuf seperti Ludwig Wittgenstein berpegang teguh pada keyakinannya bahwa <em>“</em><em>what can be said at all can be said clearly, and what we cannot talk about we must pass over in silence.” </em>Artinya, di luar dari apa yang bisa dikatakan mengenainya maka pikiran tidak bisa mendefinisikan atau mengatakan mengenai sesuatu itu. Klaim kebenaran semacam ini sekaligus mengeluarkan hal-hal yang sifatnya mistik—apa yang dalam filsafat tradisional dianggap sebagai salah satu kajian filsafat—sebagai sumber pengetahuan. Sebuah pernyataan hanya bisa diterima sebagai pengetahuan jika bisa diverifikasi secara empiris.</p>
<p>Perdebatan mengenai penegtahuan tentu tidak akan pernah selesai. Para filsuf idealis atau konseptualis seperti Plato atau Rene Descartes akan mengidolakan pengetahuan yang justifikasi kebenarannya tidak didasarkan pada referensinya pada kenyataan real atau faktual tertentu. Sementara kaum positivis seperti Wittgenstein atau Rudolf Carnap akan sangat menekankan justifikasi empiris sebagai basis dan sumber pengetahuan.</p>
<p>Pengetahuan sebagaimana diperdebatkan di atas sangat berbeda mengenai pengetahuan sehari-hari (<em>everyday knowledge</em>). Pengetahuan sehari-hari dibangun bukan berdasarkan refleksi kritis dan pengambilan jarak terhadap realitas. Pengetahuan sehari-hari lebih mendasarkan diri pada kerja akal sehat (<em>common sense</em>). Sifatnya sangat praktis dan mengarahkan hidup manusia. Pengetahuan sehari-hari yang praktis tersebut pertama-tama dimaksudkan untuk memecahkan persoalan-persoalan keseharian yang dihadapi masyarakat, dan sama sekali tidak dimaksud untuk dikembangkan lebih lanjut atau direfleksikan secara mendalam demi tujuan pada dirinya sendiri. Meskipun demikian, pengetahuan sehari-hari justru menjadi dasar dan titik tolak pengetahuan reflektif manusia. Tanpa pengetahuan sehari-hari kita tidak mungkin berefleksi secara filosofis. Pengetahuan ilmiah (<em>scientific knowledge</em>) pun dibangun di atas basis pengetahuan sehari-hari ini.</p>
<p><strong><em>b.         Contoh</em></strong></p>
<p>Masyarakat desa tertentu melarang penebangan hutan di desa mereka. Bagi mereka, menebang hutan berarti menelanjangi para penjaga hutan atau melecehkan roh nenek moyang. Larangan semacam ini sebenarnya bisa dijelaskan secara saintifik, bahwa menebang hutan berlebihan itu tidak baik karena merugikan kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Inilah local wisdom yang bisa dikembangkan ke arah refleksi filosofis dan ilmiah.</p>
<p><strong><em>c.   Rujukan</em></strong></p>
<ul>
<li>Greco, J. &amp; Sosa, E. 1999. <em>Blackwell      Guide to Epistemology</em>, Blackwell Publishing.</li>
<li><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Knowledge">http://en.wikipedia.org/wiki/Knowledge</a> (last accessed: March 3, 2010, 02:25 PM)</li>
<li><a href="http://www.philosophyonline.co.uk/tok/tokhome.htm">http://www.philosophyonline.co.uk/tok/tokhome.htm</a> (last accessed: March 3, 2010, 02:30 PM)</li>
</ul>
<p><strong>2.</strong><strong> </strong><strong>Pengetahuan filsafat</strong></p>
<p><strong><em>a.</em></strong><strong><em> </em></strong><strong><em>Pengertian</em></strong></p>
<p>Filsafat bertujuan merefleksikan realitas secara mendalam untuk menemukan jawaban-jawaban final mengenainya. Filsafat mempertanyakan dan merefleksikan realitas, termasuk kesadaran manusia sendiri yang merefleksikan realitas tersebut. Pengetahuan yang dihasilkan dari refleksi yang radikal, kritis, dan mendalam terhadap realitas, termasuk kesadaran subjek berpikir itu sendiri disebut pengetahuan filosofis.</p>
<p>Pengetahuan filosofis memiliki beberapa karakteristik penting. (1) Pengetahuan filosofis mengakomodasi berbagai pendapat atau perbedaan mengenai kebenaran. Pengetahuan tentang kebenaran (<em>truth</em>) tidak pernah dirumuskan sekali untuk selamanya. (2) Pengetahuan filosofis berusaha mensintesa berbagai klaim pengetahuan dan kebenaran. Daripada menjadi dogmatis dan mempertahankan jenis pengetahuan atau kebenaran tertentu (pengetahuan empiris, naturalis, idealis, konstruktivis, dan sebagainya), pengetahuan filosofis membuka ruang seluas-luasnya bagi perdebatan aneka klaim pengetahuan dan kebenaran. Itulah sebabnya mengapa pengetahuan dalam filsafat tidak pernah bisa disepakati. (3) Pengetahuan filosofis bersifat rasional karena mendasarkan diri pada prinsip-prinsip logika tertentu. Pengetahuan logis dibangun berdasarkan refleksi logis atas kenyataan. (4) Pengetahuan filosofis bersifat universal dalam arti bisa diterima, diperdebatkan, atau diteguhkan oleh siapapun juga persis ketika sifatnya yang rasional tersebut.</p>
<p><strong><em>b.</em></strong><strong><em> </em></strong><strong><em>Contoh-contohnya</em></strong></p>
<p>“Hidup yang tidak direfleksikan tidak layak dihidupi” (Aristoteles)</p>
<p>“Pengetahuan adalah hasil dari justifikasi terhadap keyakinan yang benar” (Plato)</p>
<p>“Kota tidak akan pernah mencapai keadaan damai sebelum para filsuf-raja menduduki kursi kekuasaan atau ketika mereka yang berkuasa sekarang melakukan perenungan-perenungan filosofis, atau ketika kekuasaan politik dan filsafat bersua”  (Plato dalam <em>Republic</em> 473c-d)</p>
<p><strong><em>c.   Rujukan</em></strong><em> </em></p>
<ul>
<li>Chisholm, Roderick. 1989. <em>Theory of      Knowledge</em>, 3rd. ed., Englewood      Cliffs: Prentice Hall.</li>
<li><a href="http://philrsss.anu.edu.au/%7Emdavies/papers/implicit.pdf">http://philrsss.anu.edu.au/~mdavies/papers/implicit.pdf</a> (last accessed: March 3, 2010, 03:40 PM)</li>
</ul>
<p><strong>3.</strong><strong> </strong><strong>Pengetahuan teologis</strong></p>
<p><strong><em>a.  Pengertian</em></strong></p>
<p>Dalam konteks kekristenan, pengetahuan teologis dipahami sebagai jenis pengetahuan yang dihasilkan pikiran manusia karena kerja atau kuasa Roh Kudus. Jenis pengetahuan ini bersumber pada Tuhan sang maha tahu yang mewahyukan dirinya kepada manusia, ”menunjukkan” diri melalui pikiran (nous) dan mengundang manusia berpartisipasi dalam pikiran Tuhan.</p>
<p>Dalam islam, pengetahuan (Bahasa Arabic: علم : <em>ilm</em>) menunjukkan bahwa Allah Sang Maha Mengetahui adalah salah satu sifat Allah dari 99 nama Allah yang disembah. Pengetahuan dalam Islam selalu dipandang sebagai yang bersumber dan datang dari Allah SWT (<a href="http://www.usc.edu/dept/MSA/quran/002.qmt.html#002.239">2:239</a>). Dalam Haditz Nabi pun dikisahkan bahwa Nabi Muhammad mengatakan kepada umatnya untuk selalu mencari dan mengusahakan pengetahuan. ”Carilah pengetahuan sejak dari dalam kandungan hinggah ke liang kubur”. Orang pintar dalam Islam disebut sebagai “alim”, sebutan yang menunjukkan penghargaan agama ini pada pengetahuan.</p>
<p>Pengetahuan teologis tentu tidak bisa diverifikasi secara saintifik seperti ilmu alam. Jenis pengetahuan ini mengandaikan penerimaan mutlak manusia atasnya persis ketika dia bersumber dari Tuhan sendiri sebagai sang maha mengetahui.</p>
<p><strong><em>b.  Contoh-contohnya </em></strong></p>
<p>Surga disediakan bagi mereka yang percaya dan setia menjalankan perintah Tuhan.</p>
<p>Allah akan membalas segala kebaikanmu dan menghukum engkau karena kelalaianmu.</p>
<p><strong><em>c.  Rujukan</em></strong></p>
<ul>
<li><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Knowledge">http://en.wikipedia.org/wiki/Knowledge</a> (Last Accessed: March 3, 2010, 14:50 PM)</li>
</ul>
<p><strong>4. </strong><strong>Pengetahuan mistik</strong></p>
<p><strong><em>a.   Pengertian</em></strong></p>
<p>Mistisisme dalam artinya yang luas dapat dikatakan sebagai hasil akhir dan final dari hasrat manusia mencari pengetahuan. Sebenarnya ini merupakan fenomena biasa dan umum dalam makhluk hidup, terutama manusia. Pengetahuan mistik bisa ditelusuri dalam fenomena pengetahuan manusia bahkan menyertai seluruh hasrat manusia dalam mengetahui. Misalnya, keinginantahu atau kekaguman akan sesuatu mendorong pikiran manusia menanyakan dan menemukan jawaban mengenai sesuatu itu. Filsafat pengetahuan menegaskan bahwa meskipun pengetahuan akan sesuatu harus bisa dijustifikasi sebagai benar atau salah (pembuktian sangat tergantung pada aliran epistemologi: empirisme versus idealisme, objektivisme versus subjektivisme, dan sebagainya), pengetahuan tersebut tidak pernah bersifat mutlak dan absolut. Karena itu, pengetahuan akan sesuatu yang menampakkan diri kepada kesadaran selalu tidak pernah bisa menjelaskan hakikat atau esensi dari sesuatu.</p>
<p>Padahal nalar (<em>nous</em>) manusia diarahkan atau terbuka kepada realitas ultim (<em>the ultimate reality</em>) persis ketika manusia merasa tidak puas dengan jawaban-jawaban yang bersifat sementara atas pertanyaan-pertanyaan filosofisnya. Nalar manusia terarah kepada esensi atau realitas ultim tertentu yang menjadi dasar atau penjelasan akhir bagi berbagai ihwal yang dihadapinya. Di sinilah nalar memiliki kemampuan menangkap dan memahami realitas ultim tertentu yang keberadaannya tidak dipasung atau dibatasi oleh ruang dan waktu. Itulah realitas mutlak, realitas abadi, realitas yang tidak berubah di hadapan realitas yang senantiasa berubah, realitas yang menjadi alasan keberadaan realitas lain. Kemampuan nalar manusia dalam menangkap esensi atau realitas ultim yang menjadi alasan keberadaan data atau fakta akan menghasilkan gagasan atau idea mengenai esensi itu sendiri. Pengetahuan mengenai esensi inilah yang disebut pengetahuan mistik.</p>
<p>Bagi orang beragama, pengetahuan tentang esensi atau pengetahuan mistik ini dihayati sebagai momen ”perjumpaan” Tuhan sang Pencipta dengan manusia selaku ciptaan. Pengetahuan mistik adalah pengalaman kesadaran di mana pengetahuan yang sifatnya terbatas dalam kungkungan ruang dan waktu mampu membawa kesadaran manusia kepada keabadiaan, kepada realitas ultim nan agung. Inilah pengetahuan di mana Tuhan menyatakan diri dalam pikiran manusia dan mengundang penyerahan diri total dari pihak manusia yang mengalami pengetahuan mistik tersebut.</p>
<p><strong><em>b.   Contoh-contohnya</em></strong></p>
<ul>
<li>Kesadaran akan makna hidup di hadapan berbagai penderitaan yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan mengandalkan empirisme atau naturalisme.</li>
<li>Kesadaran akan kebesaran yang maha kuasa melalui renungan atas keteraturan alam semesta.</li>
</ul>
<p><strong><em>c.   Rujukan</em></strong></p>
<ul>
<li>B. Sharpe, <em>Mysticism: Its True Nature and Value</em>, London, Sands &amp; Company, 2003.</li>
<li>Robert K. C. Forman, <span style="text-decoration:underline;">Mystical Knowledge: Knowledge by Identity</span>. Dalam: <cite><a href="http://www.jstor.org/action/showPublication?journalCode=jameracadreli">Journal of the American Academy of Religion</a></cite>, Vol. 61, No. 4 (Winter, 1993), pp. 705-738.</li>
</ul>
<p><strong>5.   Pengetahuan jurnalistik</strong></p>
<p><strong><em>a.   Pengertian</em></strong></p>
<p>Pengetahuan jurnalistik dimaksudkan sebagai pengetahuan yang bersumber dari media massa. Media massa sendiri sebenarnya adalah seni mengemas berita, seni mendeskripsikan materi dan opini dalam bahasa yang populer sehingga mudah dipahami masyarakat. Media massa sebagai sumber pengetahuan meliputi surat kabar, majalah, radio, televisi, internet, bahkan <em>handphone</em>.</p>
<p>Dalam pengertiannya yang ketat, pengetahuan jurnalistik tidak bisa dikategorikan sebagai pengetahuan ilmiah. Pengetahuan jurnalistik hanya berurusan dengan bagaimana suatu peristiwa atau kejadian dideskripsikan oleh jurnalis. Wartawan atau jurnalis berusaha menyajikan peristiwa apa adanya seraya memperhatikan kaidah-kaidah penulisan jurnalistik atau etika jurnalistik. Meskipun sangat deskriptif, sulit memastikan apakah pengetahuan jurnalistik benar-benar objektif persis ketika kita kesulitan membedakan karakteristik deskriptif sebuah pemberitaan dengan sudut pandang (<em>angle</em>) sang wartawan, kebijakan redaksi, atau bahkan kepentingan pemilik modal.</p>
<p>Pengetahuan jurnalistik, dengan demikian, bersifat deskriptif, sesaat, dan sementara. Pengetahuan tersebut dapat memicu penyelidikan lebih lanjut, menggugah keinginan tahu, dan membuka perspektif diskusi dan penjelasan lebih mendalam. Itu artinya mengandalkan hanya pengetahuan jurnalistik dalam memecahkan suatu persoalan tentu tidaklah memadai.</p>
<p><strong><em>b.   Contoh-contohya</em></strong></p>
<p>Tanggal 3 Maret 2010, ribuan mahasiswa berdemonstrasi di gedung DPR-RI. Mereka meminta DPR memutuskan secara objektif hasil temuan Pansus Bank Century, apakah kebijakan dan implementasi bailed-out Bank Century melanggar hukum atau tidak. Karena demonstrasi itu, ada lima mahasiswa yang ditangkap polisi.</p>
<p>Karena penangkapan ini Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Ton Abdillah Has, Kamis (4/3) di Jakarta meminta Kapolri agar membebaskan rekan mereka. Para mahasiswa itu yakin bahwa teman mereka tidak melakukan kesalahan.</p>
<p><strong><em>Komentar:</em></strong></p>
<p>Karena sifatnya yang deskriptif dan sesaat, objektivitas pengetahuan jurnalistik semacam ini bernilai rendah. Belum bisa dipastikan apakah mahasiswa yang ditangkap polisi itu memang tidak bersalah. Sama halnya dengan persoalan apakah tindakan polisi menangkap mahasiswa dapat dikategorikan sebagai tindakan profesional atau kesembronoan.</p>
<p><strong><em>c.   Rujukan</em></strong></p>
<ul>
<li><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Journalism">http://en.wikipedia.org/wiki/Journalism</a> (last accessed: March 5, 2010, 13:05 PM)</li>
<li>Eduardo Meditsch, <em>Journalism as a way of knowledge: a Brazilian pedagogical experience</em>. Dalam: <a href="http://www.bocc.ubi.pt/pag/meditsch-eduardo-journalism-knowledge.html">http://www.bocc.ubi.pt/pag/meditsch-eduardo-journalism-knowledge.html</a> ((last accessed: March 5, 2010, 13:10 PM).</li>
</ul>
<p><strong>6. </strong><strong>Pengetahuan ilmiah</strong></p>
<p><strong><em>a.   Pengertian</em></strong></p>
<p>Pengetahuan dihasilkan dari refleksi rasional, kritis, dan sistematis pikiran manusia atas realitas. Refleksi itu pada gilirannya menghasilkan penjelasan-penjelasan tertentu terhadap realitas tersebut. Pada level yang paling rendah, pengetahuan mengenai realitas bersifat umum (<em>general knowledge</em>). Pengetahuan ini menghasilkan prinsip-prinsip penjelas tertentu yang umumnya bersifat pragmatis, karena mampu menjawab atau memecahkan masalah konkret tertentu yang dihadapi manusia. Pengetahuan umum memiliki karakteristik tertentu yang dibutuhkan bagi perkembangannya ke arah pengetahuan ilmiah. Misalnya, pengetahuan umum dihasilkan dari kerja akal budi berdasarkan metodologi tertentu. Pengetahuan umum juga memiliki karakteristik abstrak ketika prinsip penjelas realitas (gagasan, asumsi, hipotesa) bersifat abstrak (kemampuan untuk dapat dibuktikan tanpa harus mengacu kepada data faktual tertentu). Pengetahuan umum juga mulai memperhatikan aspek objektivitas pengetahuan ketika pengetahuan dihasilkan bukan semata-mata sebagai konstruksi pikiran si penahu, tetapi sebagai semacam perjumpaan fenomenologis antara objek yang diketahui dan subjek yang mengetahui.</p>
<p>Pengetahuan ilmiah lahir ketika pengetahuan umum mulai disistematisasi dan dibakukan secara sistematis. Itulah sebabnya mengapa pengetahuan ilmiah tidak hanya memiliki metodologi keilmuan yang ketat, tetapi juga teknik pembuktian yang sangat bisa dipertanggungjawabkan. Pengetahuan ilmiah bekerja berdasarkan metode-metode tertentu untuk menjelaskan hubungan sebab-akibat. Penjelasan-penjelasan pengetahuan ilmiah bersifat ilmiah karena teruji berdasarkan kadar empirisnya dan prinsip universalitas penjelasannya. Meskipun bersifat sementara, pengetahuan ilmiah dapat diandalkan sebagai penjelasa terhadap berbagai fenomena yang kurang lebih sama dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p><strong><em>b.   Contoh-contohnya</em></strong></p>
<p>”Aspirin merupakan obat yang telah lama dikenal memiliki efek antitrombotik. Penelitian <em>Women’s Health Study</em> (WHS) menunjukkan bahwa pemberian aspirin 100 mg pada wanita sehat berusia 45 tahun ke atas selama 10 tahun menyebabkan penurunan risiko stroke pada pada kelompok aspirin, namun tidak menyebabkan risiko miokard infark. Berdasarkan hasil studi ini, maka penggunaan aspirin sebagai prevensi terhadap tromboembolisme vena pada wanita pasca menopause yang menggunakan HRT merupakan hal yang menjanjikan namun masih harus diuji efikasinya” (dikutip dari <em>Majalah Kedokteran Damianus</em>, Vol 8. No. 3 September 2009, hlm. 132).</p>
<p><strong><em>c.   Rujukan</em></strong></p>
<p>Verhaak, C &amp; R. Haryono Imam, <em>Filsafat Ilmu Pengetahuan. Telaah Atas Cara Kerja Ilmu-ilmu</em>, Jakarta, PT. Gramedia Pustaka Utama, 1991.</p>
<p>Keraf, A. Sony &amp; Mikhael Dua, <em>Ilmu Pengetahuan. Sebuah Tinjauan Filosofis</em>. Yogyakarta, Kanisius, 2001.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p><strong>Buat </strong><strong>pembahasan</strong><strong> disertai argumentasinya tentang:</strong></p>
<ol>
<li>Perbandingan antara pengetahuan ilmiah (IP) dengan      jenis-jenis pengetahuan lainnya</li>
<li>Apakah      bisa dikatakan bahwa:</li>
</ol>
<p>(a)    IP lebih unggul dari jenis-jenis pengetahuan lainnya? Atau:</p>
<p>(b)   Tidak dapat dikatakan bahwa IP lebih unggul karena jenis-jenis pengetahuan lain pun memiliki keunggulannya sendiri-sendiri?</p>
<p>Cantumkan daftar pustaka di bagian akhir</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kuliahfilsafat.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kuliahfilsafat.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kuliahfilsafat.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kuliahfilsafat.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kuliahfilsafat.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kuliahfilsafat.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kuliahfilsafat.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kuliahfilsafat.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kuliahfilsafat.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kuliahfilsafat.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kuliahfilsafat.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kuliahfilsafat.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kuliahfilsafat.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kuliahfilsafat.wordpress.com/135/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kuliahfilsafat.wordpress.com&amp;blog=6335470&amp;post=135&amp;subd=kuliahfilsafat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kuliahfilsafat.wordpress.com/2010/06/15/merefleksikan-berbagai-pengetahuan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a31301db44191714f039d13a621cb8c4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kuliahfilsafat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>DIMENSI DINAMIS ILMU</title>
		<link>http://kuliahfilsafat.wordpress.com/2010/05/19/dimensi-dinamis-ilmu/</link>
		<comments>http://kuliahfilsafat.wordpress.com/2010/05/19/dimensi-dinamis-ilmu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 May 2010 07:18:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kuliahfilsafat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filsafat Ilmu Pengetahuan]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[Imre Lakatos]]></category>
		<category><![CDATA[Karl Popper]]></category>
		<category><![CDATA[metode ilmiah]]></category>
		<category><![CDATA[Paul Feyerabend]]></category>
		<category><![CDATA[Thomas Kuhn]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kuliahfilsafat.wordpress.com/?p=132</guid>
		<description><![CDATA[Tiga filsuf ini (Thomas S. Kuhn, Paul Feyerabend, dan Imre Lakatos) termasuk para ilmuwan dan filsuf yang membawa pemikiran baru mengenai filsafat ilmu. Pemikiran mereka yang lahir di akhir abad ke-20 pertama-tama dipicu oleh sikap kritis mereka terhadap pandangan filsafat ilmu pada abad 20. Karena itu, penting bagi kita untuk mengerti konteks pemikiran filsafat ilmu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kuliahfilsafat.wordpress.com&amp;blog=6335470&amp;post=132&amp;subd=kuliahfilsafat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tiga filsuf ini (Thomas S. Kuhn, Paul Feyerabend, dan Imre Lakatos) termasuk para ilmuwan dan filsuf yang membawa pemikiran baru mengenai filsafat ilmu. Pemikiran mereka yang lahir di akhir abad ke-20 pertama-tama dipicu oleh sikap kritis mereka terhadap pandangan filsafat ilmu pada abad 20.</p>
<p>Karena itu, penting bagi kita untuk mengerti konteks pemikiran filsafat ilmu pada abad 20 supaya bisa memahami pemikiran-pemikiran Kuhn, Feyerabend, dan Lakatos.</p>
<p><strong>Lingakaran Wina</strong></p>
<p>Lingkaran Wina (Vienna Circle) adalah suatu kelompok yang terdiri dari sarjana-sarjana ilmu pasti dan ilmu alam di Wina. Kelompok ini didirikan oleh Moritz Schlick tahun 1924.</p>
<p>Pertemuan-pertemuan antarpara ilmuwan sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 1922 dan berlangsung terus sampai tahun 1938. Anggota kelompok antara lain: Moritz Schlick, Hans Hahn, Otto Neurath, Hans Reichenbach, dan Victor Kraft.</p>
<p><strong>POKOK-POKOK PEMIKIRAN</strong></p>
<p>Alirannya disebut NEOPOSITIVISME atau POSITIVISME LOGIS atau EMPIRISME LOGIS.  Hanya ada satu sumber pengetahuan, yakni PENGALAMAN. Pengalaman di sini adalah pengenalan data-data indrawi.  Ada dalil-dalil logika yang berguna untuk mengolah data pengalaman indrawi menjadi suatu keseluruhan yang meliputi segala data. Dalil-dalil logika itu bersifat tautologi (subjek dan predikat).</p>
<p>Preokupasi utama: mencari demarkasi antara pernyataan yang bermakna (meaningful) dan pernyataan yang tidak bermakna (meaningless).</p>
<p>Kriterianya: apakah suatu pernyataan memiliki kemungkinan untuk diverifikasi atau tidak. Karena itu, hanya ada 2 pertanyaan yang relevan ketika berhadapan dengan pengalaman: (1) How do you know? (=how do you verify?), dan (2) what do you mean?</p>
<p>Akibatnya: Filsafat tradisional harus ditolak karena ungkapan-ungkapannya melampaui pengalaman. Semua ungkapan teologis lebih tidak bermakna lagi, demikian juga etika, metafisika, dst.</p>
<p>Karena itu, tugas filsafat = memeriksa susunan logis bahasa ilmiah, baik dalam perumusan penyelidikan ilmu alam maupun dalam bidang logika dan matematika.  Satu-satunya bahasa yang dipakai adalah bahasa dan cara kerja ilmu alam.</p>
<p><strong>Filsafat ilmu menurut positivisme logis </strong></p>
<p>Filsafat ilmu pengetahuan = logika ilmu. Jadi, lebih mengurusi bentuk-bentuk logis pernyataan ilmiah, <strong>bukan </strong>isi pernyataan ilmiah tersebut. Jadi, kerja seorang filsuf ilmu hanyalah melakukan konstruksi representasi formal dari ungkapan-ungkapan ilmiah. Dia tidak usah mempedulikan detail dan perkembangan ilmu dan perubahan teori ilmiah.</p>
<p>Jadi, tidak ada konteks penemuan (context of discovery) dari ilmu pengetahuan. Yang ada hanya konteks pengujian dan pembenaran (context of justification) ilmu pengetahuan.</p>
<p>Jadi, filsafat ilmu = logika ilmu SEMAKIN JAUH DARI KENYATAAN.</p>
<p><strong>BEBERAPA TOKOH</strong></p>
<p>Pemikir yang terkenal karena pengaruh positivisme logis adalah <strong>Ludwig Wittgenstein </strong>(1889 – 1951) dengan karya termasyurnya berjudul <em>Tractus Logico Philosophicus</em> (1921).</p>
<p>Bagi dia, kerangka pikiran dan penalaran logismatematis adalah cerminan atau lukisan (<em>picture</em>) dari kenyataan yang mau dikenal manusia. Semakin kita memperoleh pandangan yang secara logis paling terinci, makin kita dekat dengan pandangan tentang kenyataan dengan segala hubungan yang terjadi di dalamnya.</p>
<p><strong>Karl Raimund Popper</strong></p>
<p>Mengeritik beberapa pandangan dari Lingkaran Wina. Kritik dan pandangannya dapat ditelusuri melalui pendapat dia mengenai dasar logis cara kerja ilmu empiris, andangan mengenai sejarah ilmu-ilmu dan pandangan mengenai tiga dunia.</p>
<p>Menolak pembedaan antara ungkapan yang bermakna (<em>meaningful</em>) dan ungkapan yang tidak bermakna (<em>meaningless</em>) berdasarkan kriterium dapat tidaknya suatu pernyataan dibenarkan secara empiris.</p>
<p>Dia mengganti pembedaan itu dengan mengemukakan pembedaan baru berdasarkan apakah suatu pernyataan bersifat ilmiah atau tidak imiah. Dasarnya tetap pada ada atau tidak adanya <strong>dasar empiris </strong>bagi ungkapan bersangkutan. Ungkapan yang tidak bersifat ilmiah mungkin saja sangat bermakna.</p>
<p>Demarkasi antara suatu ungkapan bermakna atau tidak bermakna, yakni realitas empiris dan yang menjadi fondamen seluruh pernyataan ilmu pengetahuan justru rapuh karena kelemaha internal dari cara kerja induksi itu sendiri. Induksi mengandalkan generalisasi, padahal peralihan dari sesuatu yang partikular ke yang bersifat universal justru salah secara logis.</p>
<p>Jadi, demarkasinya harus ada pada fondamen FALSIFIABILITAS = ciri khas ilmu pengetahuan adalah apakah ilmu tersebut dapat dibuktikan salah (it can be falsified).</p>
<p>Metode falsifikasi sederhana saja: dengan observasi terhadap angsa-angsa putih, betapun besar jumlahnya, orang tidak dapat sampai pada kesimpulan bahwa semua angsa berwarna putih, tetapi sementara itu cukup satu kali observasi terhadap seekor angksa hitam untuk menyangkal pendapat tadi.”</p>
<p>Jadi, dengan pembuktian seperti itulah sebuah hukum ilmiah berlaku: bahwa bukan apakah suatu hukum ilmiah dapat dibenarkan melainkan dapat dibuktikan salah.</p>
<p>Ilmu pengetahuan berkembang berdasarkan dinamika falsifikasi ini. Sebuah hipotesa segera ditinggalkan begitu dibuktikan salah, dan diganti dengan hipotesa baru. Atau, jika hanya satu unsur dalam hipotesa yang dibuktikan salah, maka unsur itu itinggalkan dan segera diganti dengan unsur baru.</p>
<p>Suatu teori baru akan diterima kalau sudah terbukti bahwa teori itu dapat meruntuhkan teori lama yang ada sebelumnya. Pengujian lain untuk menegaskan keilmiahan suatu teori adalah melalui TES EMPIRIS. Tes ini direncanakan untuk membuktikan salah sesuatu yang diuji (memfalsifikasi). Teori yang dapat dibuktikan salah akan segera BATAL, dan teori yang bertahan dalam falsifikasi akan dipertahankan sampai ditemukan cara pengujian yang baru atas teori.</p>
<p>Bagi Popper, pengetahuan maju bukan karena akumulasi pengetahuan, melainkan lewat proses eliminasi yang semakin kerasterhadap kemungkinan kekeliruan dan kesalahan. Karena itu, epistemologinya Popper disebut EPISTEMOLOGI PEMECAHAN MASALAH.</p>
<p><strong>Pandangan Tentang 3 Dunia</strong></p>
<p><strong><em>Dunia 1</em></strong></p>
<p>Kenyataan dunia fisis</p>
<p>Objektivisme kasar</p>
<p><strong><em>Dunia 2</em></strong></p>
<p>Kenyataan psikis dalam diri manusia</p>
<p>Subjektivisme semata</p>
<p><strong><em>Dunia 3</em></strong></p>
<p>Sintesa objektivisme dan subjektivisme</p>
<p>Hipotesa, hukum, teori ciptaan manusia.</p>
<p>Hasil kerja sama antara dunia 1 dan dunia 2</p>
<p>Seluruh bidang kebudayaan, seni, metafisika, agama, dll.</p>
<p><strong>Dunia 3</strong></p>
<p>Dunia 3 hanya ada ketika dihayati, yakni dalam karya dan penelitian ilmiah, dalam studi yang sedang berlangsung, membaca buku, dalam ilham yang sedang mengalir dalam diri para seniman, dan penggemar seni yang mengandaikan adanya suatu kerangka.</p>
<p>Sesudah penghayatan, semuanya mengendap menjadi bentuk-bentuk fisik (dunia 1).</p>
<p>Ketika manusia menggauli dunia 3 dan dunia 1, manusia membangkitkan kembali dan mengembangkan kemampuan psikisnya dalam dunia 2 lalu menghasilkan dunia 3, begitu seterusnya.</p>
<p><strong>Thomas S. Kuhn</strong></p>
<p>Karyanya yang terkenal: <em>The Structure of Scientific Revolution</em> (1962) dan terbit edisi revisi tahun 1970. Menolak pemikiran Popper yang melihat gerak perkembangan sains berdasarkan proses falsifikasi terhadap suatu teori. Bagi Thomas Kuhn, perkembangan ilmu pengetahuan harus dipotret dari sejarah perkembangan ilmu itu sendiri. Bagi dia, sejarah perkembangan ilmu akan menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan tidak berkembang melalui proses falsifikasi, tetapi terjadi secara revolusioner.</p>
<p><strong>Struktur Revolusi Ilmiah</strong></p>
<p>Menurut Kuhn, terdapat 3 tahap atau fase yang harus dilalui bagi terjadinya perubahan atau revolusi ilmiah. Ketiga tahap itu adalah (1) Fase praparadigmatik; (2) fase sains normal, dan (3) fase anomali yang kemudian menghasilkan revolusi ilmiah.</p>
<p><strong>Fase Praparadigma</strong></p>
<p>Sebelum sebuah disiplin keilmuan terbentuk, biasanya ada fase panjang praparadigma. Fase ini ditandai oleh penelitian yang masih taraf permulaan (<em>inchoate</em>) dan tak terarah (<em>directionless</em>) mengenai tema atau topik tertentu. Ini adalah fase yang panjang dan melelahkan serta fase yang menunjukkan adanya kemajemukan.</p>
<p>Ada juga banyak aliran pemikiran atau sekolah yang saling berkompetisi. Masing-masingnya memiliki konsepti yang berbeda secara fundamental mengenai apa masalah utama dari disiplin mereka dan kriteria apa yang digunakan untk mengevaluasi teori-teori yang menjadi prinsip penjelasan dalam kelompok mereka.</p>
<p><strong>Lahirnya Sains Normal</strong></p>
<p>Selama berbagai aliran pemikiran dan kompetisi berbagai teori berlangsung dalam fase praparadigma, dalam perkembangannya akan muncul atau menonjol suatu aliran pemikiran atau sekolah tertentu dan kemudian mendominasi berbagai diskusi dan perbincangan keilmuan.</p>
<p>Ilmuwan mulai merujuk pada disiplin tersebut karena kemampuannya dalam penjelaskan masalah-masalah yang timbul. Dan bahwa disiplin yang baru ini juga menjanjikan masa depan penelitian yang lebih sukses. Dari sini berangsur-angsur lahirnya paradigma.</p>
<p><strong>Paradigma</strong></p>
<p>Dasar dari setiap ilmu pengetahuan normal. Ilmu pengetahuan normal menghidupkan dan mempertegas fakta dan teori yang sudah ada. Beberapa karakteristik dalam paradigma:</p>
<ul>
<li>Ilmuwan memperluas pengetahuan dan mencari      ketepatan fakta. Ilmuwan tidak mencari prinsip penjelas di luar bidang      keilmuannya. Dengan demikian, ilmuwan menjelaskan fakta yang sudah dia      kenal dengan cara baru.</li>
</ul>
<ul>
<li>Ilmuwan hanya bergelut dengan fakta yang      berhubungan langsung dnegan implikasi dari teorinya.</li>
</ul>
<ul>
<li>Ilmuwan dapat menemukan fakta-fakta baru,      tetapi sebenarnya ini merupakan pengungkapan kembali dari apa yang sudah      ada secara implisit dalam paradigma yang sudah ada.</li>
</ul>
<ul>
<li>Penelitian dan pembuktian hanya untuk      mempertajam teori.</li>
</ul>
<ul>
<li>Paradigma memiliki kemampuan memecahkan      masalah terhadap fakta-fakta yang muncul dalam lingkup paradigma tersebut.</li>
</ul>
<p><strong>Komunitas Ilmiah</strong></p>
<p>Paradigma dalam sains normal didukung oleh sebuah komunitas ilmiah (<em>scientific community</em>) yang melakukan kerja keilmuwan untuk mengembangkan ilmunya.</p>
<p>Para ilmuwan dalam komunitas ilmiah dipersatukan oleh pendidikan, interaksi profesional dan komunikasi (mis. Jurnal, konvensi), atau yang memiliki interes yang sama terhadap masalah tertentu dan menerima model pemecahan tertentu atas masalah tersebut.</p>
<p>Contoh-contoh paradigma, (1) Teori mekanika dan teori gravitasinya Isaac Newton; (2) Teori kelistrikan dari Franklin; (3)  Teori heliosentris dari Copernicus.</p>
<p><strong>Lahirnya anomali</strong></p>
<p>Situasi di mana sains normal tidak mampu lagi menjelaskan fakta-fakta dan persoalanpersoalan baru. Fakta-fakta sudah tidak sesuai lagi dengan kerangka paradigma baru.</p>
<p>Anomali bisa memunculkan 2 kemungkinan: (1) Penemuan fakta mendorong lahirnya suatu paradigma baru. (2) Perubahan baru selalu menyangkut baik perubahan itu sendiri maupun cara menyikapi perubahan. Anomali memicu lahirnya paradigma baru.</p>
<p>Ketika krisis dan anomali mulai muncul, sikap ilmuwan bisa 2: (1) Mencoba menjelaskan anomali dengan kerangka teori yang sudah ada. Jika berhasil, maka anomali bisa diatasi. Jika tidak berhasil, anomali berlanjut. Di sini krisi memicu ke tidakpercayaan ilmuwan pada skema teori mereka. Akibatnya, timbul ketidakpastian ilmu pengetahuan. Contoh: ketidakpercayaan muncul ketika sistem Ptolomeus tidak mampu menjelaskan posisi bintang dan planet yang tidak berubah-ubah. Sementara kepercayaan lahir ketika muncul teori Copernicus yang lebih mampu menjelaskan, yakni bahwa matahari memang tidak mengalami perubahan posisi menghadapi bumi dan bulan. (2) Mengabaikannya sama sekali. Posisi ini umumnya ditolak oleh ilmuwan yang serius.</p>
<p><strong>Mengkritik Kuhn</strong></p>
<p>Kuhn lupa bahwa setiap penelitian dalam sains selalu diikuti oleh contoh-contoh pengamatan yang bertentangan. Inilah problem yang bertentangan dengan paradigma dan harus dijelaskan (dipecahkan) oleh paradigma tersebut. Problem semacam ini memang tidak bisa ditolak. Tapi Kuhn lupa bahwa sesuatu tidak bisa disebut sebagai problem kalau kita tidak melihatnya sebagai masalah atau problem bagi paradigma yang kita anut.</p>
<p>Ilmu pengetahuan seharusnya tidak identik dengan paradigma. Bahwa ada paradigma-paradigma yang menjadi acuan penjelasan dalam ilmu pengetahuan, dan bukan identifikasi ilmu sebagai paradigma. Karena kalau tidak maka menggantikan paradigma sama saja dengan menggantikan ilmu pengetahuan.</p>
<p><strong>Paul Feyerabend</strong></p>
<p>Bukunya yang terkenal berjudul: <em>Against Method</em> di mana dia mengatakan bahwa pada dasarnya ilmu pengetahuan dan perkembangannya tidak bisa diterangkan ataupun diatur oleh segala macam aturan dan sistem maupun hukum.</p>
<p>Ilmu pengetahuan tidak mengenal aturan metodologis yang selalu digunakan para ilmuwan. Aturan metodologis hanya akan membatasi aktivitas para ilmuwan, dan dengan demikian akan membatasi kemaju ilmu pengetahuan.</p>
<p>Perkembangan ilmu pengetahuan terjadi karena KREATIVITAS INDIVIDUAL. Karena itu, satu-satunya prinsip yang tidak menghambat perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan adalah ANITHING GOES.</p>
<p>Dengan begitu, dia menolak adanya keteraturan dalam perkembangan ilmu. Lalu keteraturan itu diwujudkan dalam hukum dan sistem. Jadi, Feyerabend memang menentang metode.</p>
<p>Mengapa Feyerabend menentang metode? Menurut dia, dalam menjalankan riset dan menjelaskannya, ilmuwan sebaiknya tidak dibatasi oleh metode-metode yang ada. Ilmuwan harus BEBAS.  Kegiatan ilmiah dan ilmu pengetahuan adalah suatu upaya yang anarkistik karena tidak mengandalkan satu metode tertentu.</p>
<p>Bagi dia, sains sebagimana yang kita ketahui selama ini bisa menjadi monster yang mematikan manusia sendiri demi alasan objektivitas. Karena itu, ilmuwan harus dibebaskan dari berbagi belenggu metodologi keilmuan dan dalam KEBEBASANNYA berusaha memahami dan menjelaskan berbagai fakta, gejala, kejadian secara</p>
<p>lebih subjektif dan anarkis. Bahkan filsafat pun harus ditolak karena tidak mampu memberikan deskripsi yang umum mengenai sains. Sains juga tidak sanggup menemukan sebuah metode keilmuan yang bisa membedakan mana yang merupkan produk sains dan mana yang bukan merupakan produk sains, misalnya mitos-mitos. Karena itu, arahan atau bimbingan filosofis sebaiknya diabaikan saja oleh para ilmuwan.</p>
<p>Untuk menjelaskan pandangannya bahwa dalam bekerja ilmuwan tidak membutuhkan metodologi keilmuan tertentu, Feyerabend mengambil contoh revolusi Copernican. Dengan revolusi ini semua metodologi keilmuan yang selama ini ada dalam masyarakat (<em>prescriptive rules</em>) dengan senidirinya ditolak. Revolusi Copernican tidak mungkin akan terjadi jika ilmuwan bekerja mengikuti metode-metode keilmuan tertentu.</p>
<p>Dia juga mengkritik falsifikasinya Popper. Bagi dia, tidak ada satu teori keilmuan pun yang konsisten dengan semua fakta yang relevan. Jadi, kriteria konsistensi dalam menilai kekuatan sebuah teori dengan sendirinya ditolak Feyerabend.</p>
<p>Bagi dia, sains bukanlah satu-satunya penjelas realitas. Dalam masyarakat masih ada sumber-sumber penjelasan lainnya yang juga memiliki otoritas yang setara, misalnya penjelasan dari mitos, dari agama, dsb. Masyarakat jangan dikungkung oleh metodologi keilmuan tertentu. Biarkan kebebasan dalam masyarakat, di mana semua penjelasan alam semesta hidup dan berkembang.</p>
<p><strong>Konsep <em>anything goes</em></strong></p>
<p>Dalam bukunya berjudul <em>Against Method </em>dan <em>Science in a Free Society</em>, Feyerabend mempertahankan gagasannya bahwa tidak ada aturan metodologis tertentu yang selalu digunakan oleh para ilmuwan. Bagi dia, setiap metodologi ilmiah tidak lebih dari aturan yang sifatnya preskriptif dan jika digunakan atau dipakai dalam penelitian hanya akan membatasi aktivitas sang ilmuwan itu sendiri. Pekerjaan ilmuwan yang terhambat oleh metodologi dengan sendirinya akan membatasi pula kemajuan ilmu pengetahuan. Dari pada memaksakan suatu aturan yang kaku tertentu ke dalam serangkaian metodologi ilmiah, ilmuwan membiarkan saja segala sesuatu berjalan tanpa dibatasi oleh metodologi. Ilmuwan bahkan bisa belajar dari keadaan yang anarkis dan kacau sekalipun.</p>
<p>Feyerabend justru mempertanyakan, apakah metode ilmiah dengan klaim objektivitasnya dapat sungguh-sungguh menghasilkan pengetahuan yang tidak membahayakan manusia? Dan, apakah tidak mengikuti metodologi ilmiah tertentu hanya akan menghasilkan monster bagi manusia? Dia berpendapat, bahwa bahkan atas nama metodologi ilmiah sekalipun, ilmu pengetahuan ternyata bisa menghasilkan luaran yang justru membahayakan hidup manusia itu sendiri. Mengutip Kierkegaard, Feyerabend menulis: ”Is it not possible that my activity as an <span style="text-decoration:underline;"><a title="Objectivity  (philosophy)" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Objectivity_%28philosophy%29">objective</a> </span>[or critico-rational] observer of nature will weaken my strength as a human being?&#8221; I suspect the answer to many of these questions is affirmative and I believe that a reform of the sciences that makes them more anarchic and more subjective (in Kierkegaard&#8217;s sense) is urgently needed. <em>Against Method</em>. p. 154).</p>
<p>Posisi atau pandangan yang dibela Feyerabend digolongkan sebagai pandangan radikal dalam filsafat ilmu. Disebut demikian karena filsafat filsafat tidak mampu menyediakan atau memberikan suatu deskripsi umum mengenai sains, juga tiadk mampu menyediakan sebuah metode yang bisa membedakan produk-produk yang dihasilkan sains sendiri dengan produk-produk yang dihasilkan pseudosains.</p>
<p><strong>Imre Lakatos</strong></p>
<p>Bukunya yang terkenal berjudul <em>Criticism and Methodology of Scientific Research Programmes </em>(1968. Dia menganggap Thomas Kuhn tidak memahami falsifikasi dengan benar. Menurut Lakatos, bukan teori tunggal yang harus dinilai sebagai ilmiah atau tidak ilmiah, tetapi rangkaian teori-teori.</p>
<p>Rangkaian teori-teori ini dihubungkan oleh suatu kontinuitas yang menyatukan teori-teori tersebut menjadi program-program riset. Dalam program riset ada aturan-aturan metodologis yang dibedakan menjadi: (1) yang memberitahu cara atau jalan mana yang harus dihindari (heuristik negatif); dan (2) cara atau jalan mana yang harus dijalankan (heuristik positif). Heuristik positif = inti program yang dilindungi dari upaya falsifikasi. Lapisan pelindungnya adalah hipotesa pendukung, kondisi-kondisi awal.</p>
<p>Dalam penelitian, yang pada akhirnya menang adalah program riset yang mampu mengembangkan isi empiris lebih besar dan derajat koroborasi (<em>confirmation/support by further evidence</em>) empiris yang lebih tinggi.</p>
<p>Bagi Lakatos, bahkan teorema matematika sekalipun tidak bisa langsung dibenarkan hanya karena belum ada kontra teorema baru. Bahkan teorema matematika pun adalah</p>
<p>conjecture (dugaan. Bersifat quasi-empiricism) yang akan diuji melalui contoh-contoh yang berbeda (<em>counterexample</em>). Inilah yang disebutnya sebagai refutation. Di sini ilmu pengetahuan berkembang maju dalam proses CONJECTURE &#8212;&gt; REFUTATION.</p>
<p>Berusaha mendamaikan pemikiran Popper dan Kuhn mengenai perkembangan ilmu pengetahuan. Bagi Popper, melalui falsifikasi, ilmuwan akan berhenti mengacu atau membandingkan teori keilmuan tertentu dengan fakta-fakta. Teori keilmuan harus segera ditinggalkan jika ilmuwan menemukan adanya <em>falsifying evidence</em>.</p>
<p>Sementara Kuhn melihat bahwa dalam periode sains normal para ilmuwan tidak sibuk dengan falsifikasi, tetapi justru berusaha memajukan ilmunya dengan meningkatkan kemampuan menjelaskan dari ilmu mereka. Bahkan ketika berhadapan dengan keadaan anomali pun ilmuwan tetap menaruh harapan pada paradigma yang mereka anut sebagai yang memiliki kemungkinan menjelaskan. Peralihan teori baru terjadi ketika tidak bisa diandalkan lagi. Di sini Popper tidak sedang berbicara mengenai perilaku aktual ilmuwan, sementara Kuhn berbicara mengenai perilaku aktual ilmuwan.</p>
<p>Preokupasi Lakatos adalah menemukan metodologi keilmuan tertentu yang sanggup mengakomodasi pemikiran Popper dengan Kuhn. Bagi Lakatos, apa yang menurut kita adalah teori, barangkali lebih merupakan semacam suksesi berbagai teori yang berbeda dan teknik-teknik eksperimentasi yang telah berkembang dan dikembangkan selama periode tertentu. Di mana berbagai teori itu memiliki common idea tertentu yang dia sebut dengan istilah &#8216;hard core&#8217;. Lakatos menyebut rangkaian perubahan semacam ini dengan nama PROGRAM RISET (<em>Research Programmes</em>).</p>
<p>Setiap ilmuwan yang terlibat dalam sebuah “Program Riset” akan berusaha untuk melindungi wilayah teoretis (<em>the theoretical core</em>) dari upaya falsifikasi. Perlindungan ini dilakukan ilmuwan dengan melindungi wilayah teoretisnya di bawah sabuk pelindung <em>auxiliary hypotheses</em>. Dan ini sah-sah saja.</p>
<p>Bagi Lakatos, daripada mengajukan pertanyaan apakah sebuh hipotesa adalah benar atau salah, lebih baik mengajukan pertanyaan apakah sebuah “program riset” lebih baik dari program riset lainnya supaya ada dasar rasional bagi ilmuwan untuk mempertahankan dan melanjutkannya. Dalam kasus tertentu “program riset” tertentu dapat dideskripsikan sebagai PROGRESIF, sementara di kesempatan lain bersifat MEROSOT (degenerating).</p>
<p>Program riset yang progresif ditandai oleh pemkembangan program itu sendiri, terutama ketika ditemukannya fakta-fakta baru yang mencengangkan, perkembangan teknik-teknik eksperimentasi baru, prediksi-prediksi yang lebih tepat,, dst. Sementara “program riset” yang bersifat merosot ditandai oleh kurangnya pertumbuhan, atau bertumbuhnya sabuk pelindung yang tidak mengarah kepada faktafakta baru. (Atma Jaya Semanggi, Yeremias Jena, 19 Mei 2010).</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kuliahfilsafat.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kuliahfilsafat.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kuliahfilsafat.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kuliahfilsafat.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kuliahfilsafat.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kuliahfilsafat.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kuliahfilsafat.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kuliahfilsafat.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kuliahfilsafat.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kuliahfilsafat.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kuliahfilsafat.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kuliahfilsafat.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kuliahfilsafat.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kuliahfilsafat.wordpress.com/132/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kuliahfilsafat.wordpress.com&amp;blog=6335470&amp;post=132&amp;subd=kuliahfilsafat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kuliahfilsafat.wordpress.com/2010/05/19/dimensi-dinamis-ilmu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a31301db44191714f039d13a621cb8c4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kuliahfilsafat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Model-Model Ilmu</title>
		<link>http://kuliahfilsafat.wordpress.com/2010/04/08/model-model-ilmu/</link>
		<comments>http://kuliahfilsafat.wordpress.com/2010/04/08/model-model-ilmu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Apr 2010 10:58:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kuliahfilsafat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filsafat Ilmu Pengetahuan]]></category>
		<category><![CDATA[francis bacon]]></category>
		<category><![CDATA[model-model ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[rene descartes]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kuliahfilsafat.wordpress.com/2010/04/08/model-model-ilmu/</guid>
		<description><![CDATA[Pertemuan ini akan membahas beberapa model ilmu, seperti explanation science, universality science, dan warrant science. Tujuan: agar mahasiswa memahami dengan tepat hasil perkembangan ilmu pengetahuan dan implikasinya tentang konsep ilmu pengetahuan itu sendiri. Sumber: McMullin Polemik sains di abad 17 dan 18 akhirnya menegaskan bahwa sains yang semata-mata bersifat konseptualis tidak bisa diandalkan. Namun sebaliknya, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kuliahfilsafat.wordpress.com&amp;blog=6335470&amp;post=130&amp;subd=kuliahfilsafat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pertemuan ini akan membahas beberapa model ilmu, seperti <em>explanation science</em>, <em>universality science</em>, dan <em>warrant science</em>.</p>
<p><strong>Tujuan:</strong> agar mahasiswa memahami dengan tepat hasil perkembangan ilmu pengetahuan dan implikasinya tentang konsep ilmu pengetahuan itu sendiri.</p>
<p><strong>Sumber:</strong> McMullin</p>
<p>Polemik sains di abad 17 dan 18 akhirnya menegaskan bahwa sains yang semata-mata bersifat konseptualis tidak bisa diandalkan. Namun sebaliknya, sains yang melulu bersifat empiris pun tidak mampu menjelaskan seluruh gejala alam persis ketika karakteristik dari jenis pengetahuan empiris yang fragmentaris, terdiri dari fakta-fakta yang penjelasan atasnya mengandung kebenaran yang bersifat kemungkinan (<em>probability</em>).</p>
<p>Dalam pertemuan ini kita akan membahas secara khusus dua filsuf ilmu yang pemikiran-pemikirannya menegaskan pentingnya sintesis antara sains yang sifatnya konseptualis dan sains empiris. Kedua filsuf itu adalah Francis Bacon dan Rene Descartes.</p>
<p><strong>1.    Francis Bacon</strong></p>
<p>Mengenai filsuf yang satu ini umumnya dikatakan bahwa dialah sosok sejati dari seorang pemikir empiris. Apakah dengan demikian bisa disimpulkan bahwa Bacon memang seorang filsuf ilmu yang menolak sama sekali sains konseptualis, paling tidak penjelasan sains yang bersifat rasionalistik? MacMullin berpendapat bahwa pemikiran menelusuri pemikiran Bacon secara lebih mendalam justru menunjukkan bagaimana dia menegaskan pentingnya mengoperasikan dimensi eksperimental dan penjelasan-penjelasan rasionalistis dalam sains. Kutipan berikut mewakili gagasan Francis Bacon sebagaimana diargumentasikan MacMullin:</p>
<p>“Orang-orang yang bereksperimen ibarat semut: mereka hanya mengumpulkan dan menggunakan; sementara kaum rasionalis ibarat laba-laba, mereka membangun jaring-jaring dari substansi mereka sendiri. Berbeda dengan semut dan laba-laba, lebah mengambil jalan tengah: dia mengumpulkan material yang dibutuhkan dari kembang-kembang yang ada di taman dan ladang, tetapi mengubah dan mencernanya dengan kekuatannya sendiri. Seperti inilah bisnis utama dari filsafat: karena filsafat tidak mengandalkan semata-mata pada kemampuan nalarnya, juga tidak semata-mata menggantungkan diri pada bahan-bahan yang diambilnya dari sejarah alam dan eksperimen-eksperimen mekanikal dan menjelaskannya kemudian menjelaskannya sebagaimana bahan-bahan menampakkan diri; tetapi justeru menjelaskannya berdasarkan pemahaman yang sudah diolah dan dicerna. Karena itu, dari persaingan yang terbuka dan murni antara kedua fakultas ini, yang eksperimental dan yang rasional, banyak yang bisa diharapkan” (dikutip dari MacMullin, hlm. 48).</p>
<p>Sangat menakjubkan bahwa Francis Bacon menegaskan pentingnya mengkombinasikan pandangan konseptualis dan tendensi-tendensi empiris dalam ilmu pengetahuan. Francis Bacon memang pendukung metode induksi dalam mencapai pengetahuan, dan bagi dia inilah prosedur mencapai pengetahuan yang harus dilalui. Meskipun demikian, bagi dia, pengetahuan yang sifatnya induktif menjadi pembuktian dan kepastian atas pengetahuan-pengetahuan yang sifatnya kualitatif yang dihasilkan oleh kerja nalar manusia. Meskipun demikian, harus diakui bahwa peranan hipotesa dan “kemampuan menalar” (dimensi rasionalitas) dalam pengetahuan manusia tidak bisa dijelaskan Bacon secara berhasil.</p>
<p><strong>2.    Rene Descartes</strong></p>
<p>Descartes dipotret sebagai tokoh sentral dan wakil dari pemikiran rasionalisme. Dialah representasi dari sains konseptualis <em>par execellence</em>. Dialah yang melanjutkan pemikiran Aristoteles mengenai sains dan konsisten dengan pemikiran sains konseptualis. Para ilmuwan menganggap Cartesius, terutama setelah kegagalan fisika Cartesian, sebagai ilmuwan yang mengandalkan pendekatan a priori dalam pemikiran-pemikirannya. Pemikiran-pemikirannya berkarakter a priori. Meskipun demikian, Descartes sendiri melakukan banyak sekali eksperimen dan menegaskan bahwa “eksperimen-eksperimen menjadi begutu perlu dan dibutuhkan ketika seseorang maju dalam pegetahuan.”</p>
<p>Penegasan ini menunjukkan semacam paradoks, bahwa Descartes yang adalah pendukung berat posisi sains konseptualis justru menegaskan pentingnya eksperimen dalam sains. Kontradiksi semacam ini tidak bisa dijelaskan dengan mengatakan bahwa Descartes menjadi pembela sains konseptualis ketika dia masih muda (dalam karyanya Regulae) dan dia menjadi pembela dari metode pengetahuan empiris dan hipotesis dalam karya-karyanya di lanjut usia.</p>
<p>MacMullin menunjukkan sebuah kutipan pemikiran Descartes dalam karyanya Discours yang kalau dicermati secara baik justru memperlihatkan bagaimana dia sanggup menunjukkan semacam sintesa antara sains yang konseptualis dan sains yang empiris.</p>
<p>“Saya pertama telah berusaha menemukan secara umum prinsip-prinsip atau penyebab pertama dari segala sesuatu yang ada atau yang mungkin ada di dunia ini, tanpa memperhitungkan hal apapun juga yang bisa membantu tercapainya tujuan ini selain Allah sendiri yang telah menciptakan dunia ini, atau menurunkan mereka dari sumber-sumber apapun juga kecuali dari kuman tertentu dari kebenaran yang eksis secara alamiah dalam jiwa kita. Setelah itu saya mempertimbangkan yang mana yang primer dan dan merupakan efek yang yang paling biasa yang bisa saja dideduksikan dari sebab-sebab ini, dan hal itu tampak bagi saya bahwa dalam cara ini saya telah menemukan langit, bintang-bintang dan bahkan bumi, air, udara, api, barang-barang tambang dan hal-hal lain sejenisnya &#8230; . Dan ketika saya berharap untuk turun (descend) ke hal-hal yang lebih partikular, begitu banyak objek dari berbagai jenis menampakkan diri mereka kepadaku sehingga saya tidak yakin jika mungkin bagi pikiran manusia untuk membedakan forma-forma dari benda-benda yang ada di atas bumi, dari hal-hal lain yang kekal yang mungkin demikian adanya jika itu sudah merupakan kehendak dari Allah yang menempatkan mereka di sana, jika bukan bahwa kita sampai pada sebab-sebab setelah berangkat dari akibat-akibat (effects) dan menguntungkan diri kita sendiri dari berbagai macam eksperimen. &#8230; Kekuasaan dari alam itu begitu banyak dan luas, sementara prinsip-prinsip ini begitu sederhana dan umum, sehingga saya mengobservasi secara sulit efek apapun &#8230;. yang mungkin saja tidak bisa dideduksikan dari prinsip-prinsip dalam berbagai cara; dan kesulitan saya terbesar adalah biasanya menemukan dalam cara-cara manakah efek-efek biasanya tergantung. Mengenai hal ini, saya tidak mengetahui rencana apapun selain mencoba menemukan eksperimen-eksperimen dari alam semacam itu sehingga hasil-hasilnya tidaklah sama jika hal itu harus dijelaskan oleh salah satu metode (deduksi) sama seperti itu dijelaskan oleh metode lainnya” (dikutip dari MacMullin, hlm. 49-50).</p>
<p>Dalam kutipan yang panjang ini Descartes mengklaim bahwa (1) ada banyak sekali pernyataan yang spesifik mengenai hakikat dari alam semesta (misalnya mengenai mineral) dapat dideduksikan dengan kepastian dari prinsip-prinsip pertama (prima principia) dari metafisikanya, dan bahwa prinsip-prinsip penjelas demikian berasal dari “kuman-kuman kebenaran” (germ of truths) yang ada dalam pikiran manusia; (2) menyangkut entitas yang lebih partikular, adalah mustahil untuk mendeduksikan mereka dalam cara seperti ini oleh karena adanya keanekaragaman sebab-sebab yang mungkin dan dengan demikian seseorang harus berpaling kepada eksperimen sebagai sarana yang membantu dalam menentukan (memutuskan) dari antara berbagai kemungkinan yang saling bersaing.</p>
<p>“Semua badan yang membentuk alam semesta ini disusun oleh materi yang sama yang bisa dibagi ke dalam bagian-bagian yang digerakkan secara berbeda yang gerakan-gerakannya dalam cara tertentu bersifat melingkar &#8230;. selalu saja terdapat kuantitas yang setara dari gerakan-gerakan ini di alam semesta. Tetapi kita sendiri tidak sanggup untuk menentukan dalam cara yang sama berapa banyaknya bagian ke dalam mana materi-materi ini dibagi, juga tidak sanggup menentukan kecepatan seperti apakah gerakan-gerakan itu yang dengannya materi-materi itu berputar, atau juga tidak mampu menentukan lingkaran pergerakan mereka. Karena sejauh semuanya ini bisa ditetapkan oleh Allah sendiri dalam cara yang beragam pula, hanyalah pengalaman sendiri dan bukanlah kekuatan penalaran yang memungkinkan kita mengetahui yang mana dari semuanya ini yang sudah dipilih oleh Allah” (Dikutip dari MacMullin, hlm. 50).</p>
<p>Dengan kata lain, Descartes menemukan atau menghadapi kesulitan hanya mengenai bagaimana membuktikan secara meyakinkan distribusi dan gerakan-gerakan dari materi dalam dunia nyata ini. Semuanya ini harus diposisikan sebagai kontingen. Descartes sendiri terbiasa dengan pemikiran semacam ini karena adanya diktum teologis mengenai kemahakuasaan Allah (the omnipotence of God). Perhatikan bahwa Descartes tidak mengatakan di sini bahwa hukum-hukum tertentu dari fisikanya menjelaskan hal yang kontingen tersebut. Semua yang dikatakan Descartes dapat ditemukan melalui “kemampuan menalar” saja. Peran dari eksperimen adalah, dalam contoh pertama, bukan dalam artian menegaskan sesuatu dengan prinsip-prinsip pertama. Adalah dalam penemuan dari distribusi materi faktual yang sifatnya kontingen pada suatu waktu tertentu yang memungkinkan orang membuat prediksi-prediksi. Dengan kata lain, apa yang sedang dikatakan Descartes adalah bahwa fisikanya sendiri tidak boleh ditempatkan sebagai yang menyediakan dalam dirinya apa-apa yang dibutuhkan untuk melakukan prediksi nyata akan apa yang akan terjadi dan kapan sesuatu terjadi.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kuliahfilsafat.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kuliahfilsafat.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kuliahfilsafat.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kuliahfilsafat.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kuliahfilsafat.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kuliahfilsafat.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kuliahfilsafat.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kuliahfilsafat.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kuliahfilsafat.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kuliahfilsafat.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kuliahfilsafat.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kuliahfilsafat.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kuliahfilsafat.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kuliahfilsafat.wordpress.com/130/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kuliahfilsafat.wordpress.com&amp;blog=6335470&amp;post=130&amp;subd=kuliahfilsafat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kuliahfilsafat.wordpress.com/2010/04/08/model-model-ilmu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a31301db44191714f039d13a621cb8c4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kuliahfilsafat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KESESATAN MELALUI RETORIKA</title>
		<link>http://kuliahfilsafat.wordpress.com/2010/04/08/kesesatan-melalui-retorika/</link>
		<comments>http://kuliahfilsafat.wordpress.com/2010/04/08/kesesatan-melalui-retorika/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Apr 2010 04:39:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kuliahfilsafat</dc:creator>
				<category><![CDATA[LOGIKA]]></category>
		<category><![CDATA[kesesatan]]></category>
		<category><![CDATA[mesesatan dalam retorika]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kuliahfilsafat.wordpress.com/?p=128</guid>
		<description><![CDATA[Terpukau dengan kemasan sehingga tidak melihat isi. Bahasa retorika biasanya untuk membujuk, meyakinkan, menarik minat. Bahasa retorika memanfaatkan kelemahan psikologis manusia. Kesesatan karena bahasa retorika meliputi: (1) Eufemisme dan disfemisme; (2) Perbandingan, definisi, dan penjelasan retorik; (3) Stereotipe; (4) Innuendo; (5) Pertanyaan bermuatan; (6) Weaseler; (7) Meremehkan (downplay); (8) Lelucon (sindiran); (9) Hiperbola; (10) Pengandaian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kuliahfilsafat.wordpress.com&amp;blog=6335470&amp;post=128&amp;subd=kuliahfilsafat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<ul>
<li>Terpukau dengan kemasan sehingga tidak melihat isi. Bahasa retorika biasanya untuk membujuk, meyakinkan, menarik minat. Bahasa retorika memanfaatkan kelemahan psikologis manusia.</li>
<li>Kesesatan karena bahasa retorika meliputi: (1) Eufemisme dan disfemisme; (2) Perbandingan, definisi, dan penjelasan retorik; (3) Stereotipe; (4) Innuendo; (5) Pertanyaan bermuatan; (6) Weaseler; (7) Meremehkan (downplay); (8) Lelucon (sindiran); (9) Hiperbola; (10) Pengandaian bukti; dan (11) Kesesatan karena dilema semu.</li>
</ul>
<ol>
<li><strong><em>Eufemisme dan disfemisme: </em></strong>(1)<strong><em> </em></strong>Pembangkang vs reformator; (2) Bertobat vs murtad</li>
<li><strong><em>Perbandingan, definisi, dan penjelasan retorik: </em></strong>Perbandingan: (1) Tubuhmu seindah gitar spanyol. (2) Aku tak menyangka kamu secerdas Habibie. Definisi (retorik): (1) Aborsi tidak bisa dibenarkan karena merupakan tindakan pembunuhan yang keji. <strong><em>Bandingkan:</em></strong> Aborsi itu tindakan medis biasa yang dilakukan para dokter untuk menyelamatkan seorang ibu dari kematian. Penjelasan (retorik): (1) Dia kalah dalam pertandingan karena bermain terlalu hati-hati. (2) Indonesia tidak mau meladeni provokasi Malaysia di Ambalat karena tidak ingin merusak keharmonisan sesama bangsa Melayu.</li>
<li><strong><em>Stereotipe: </em></strong>Mencirikan seseorang dengan sedikit bukti atau tidak ada bukti sama sekali. (1) Orang Jawa memang halus perangainya. (2) Orang keturunan Tionghoa pandai berbisnis. (3) Perempuan genit itu pasti seorang janda.</li>
<li><strong>Innuendo: </strong>Sindiran tidak langsung, bisa menyesatkan sekali kalau tidak ditafsirkan secara benar. Umumnya digunakan untuk mengungkapkan ketidaksetujuan. Sering bersifat sindiran halus (insinuation). Misalnya: (1) Kamu kelihatan semakin makmur ya (menyindir teman yang semakin gemuk badannya). (2) Belakangan ini kamu kelihatannya sibuk sekali. (menyindir teman yang kurang meluangkan waktu untuk hang out)</li>
<li><strong><em>Pertanyaan bermuatan (loading question): </em></strong>Pertanyaan yang diajukan tersirat muatan jawabannya. (1) Apakah Anda masih senang berjudi? (2) Bukankah kamu pernah melakukan kesalahan yang sama?</li>
<li><strong><em>Weaseler: </em></strong>Metode linguistik untuk keluar dari kesulitan. Membantu melindungi klaim dari kritik. Misalnya: (1) Satu dari 7 wanita Indonesia menggunakan Softex; (2) Rejoice, pilihan wanita Indonesia.</li>
<li><strong><em>Meremehkan (downplay). </em></strong>Stereotipe, innuendo, perbandingan dan penjelasan retorik sebenarnya bisa digunakan untuk meremehkan seseuatu atau seseorang. (1) Jangan berobat ke dokter Hendra. Dia hanya seorang dokter umum; (2) Mengapa kamu bisa gagal ujian? Katanya kamu pintar! (3) Para dokter itu memang kaum “profesional” di bidang kesehatan.</li>
<li><strong><em>Lelucon/Sindiran: </em></strong>Menyindir seseorang yang berjenggot seperti “jenggot kambing” sebagai hal yang lucu.</li>
<li><strong><em>Hiperbola:</em></strong> Pernyataan yang berlebihan. (1) Papi dan mamiku fasis banget. Lagian, jam 18:00 saya harus sudah berada di rumah! (2) Kamu sungguh sahabatku terbaik yang pernah hidup.</li>
<li><strong><em>Pengandaian bukti: </em></strong>Dalam pembicaraan seseorang mengemukakan gagasannya sedemikian rupa sehingga pendengar yakin bahwa dia memiliki bukti-bukti tertentu yang mendukung pernyataan2nya. Padahal, bukti tersebut diandaikan begitu saja (tidak bisa ditunjukkan). Misalnya: (1) Studi menunjukkan bahwa …. (2) Hasil poolong terakhir sebuah lembaga survei membuktikan bahwa …. dst</li>
<li><strong><em>Kesesatan karena dilema semu: </em></strong>Sebenarnya tersedia pilihan dalam menjelaskan sebuah persoalan, tetapi orang mereduksi persoalan ke sebuah dilema. (1) Nilaimu buruk, kecuali pendidikan Bahasa Indonesia. Kamu harus memilih melanjutkan studi di fakultas kedokteran atau pindah ke fakultas sastra. (2) Berhenti mengirim aku bunga atau kulapor kamu ke polisi.</li>
</ol>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kuliahfilsafat.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kuliahfilsafat.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kuliahfilsafat.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kuliahfilsafat.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kuliahfilsafat.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kuliahfilsafat.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kuliahfilsafat.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kuliahfilsafat.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kuliahfilsafat.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kuliahfilsafat.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kuliahfilsafat.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kuliahfilsafat.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kuliahfilsafat.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kuliahfilsafat.wordpress.com/128/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kuliahfilsafat.wordpress.com&amp;blog=6335470&amp;post=128&amp;subd=kuliahfilsafat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kuliahfilsafat.wordpress.com/2010/04/08/kesesatan-melalui-retorika/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a31301db44191714f039d13a621cb8c4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kuliahfilsafat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KESESATAN PRESUMSI</title>
		<link>http://kuliahfilsafat.wordpress.com/2010/04/08/kesesatan-presumsi/</link>
		<comments>http://kuliahfilsafat.wordpress.com/2010/04/08/kesesatan-presumsi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Apr 2010 04:34:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kuliahfilsafat</dc:creator>
				<category><![CDATA[LOGIKA]]></category>
		<category><![CDATA[kesesatan]]></category>
		<category><![CDATA[kesesatan presumsi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kuliahfilsafat.wordpress.com/?p=125</guid>
		<description><![CDATA[1.     Kesesatan karena pernyataan yang mengundang pertanyaan (petitio principii) Kesesatan ini terjadi karena kita menggunakan konklusi (apa yang hendak dibuktikan) sebagai premis. Perhatikan contoh berikut. (1) Orang harus berlaku adil, karena itu adalah perintah Tuhan yang tertulis dalam kitab suci. (2) Andre Sitohang pandai menyanyi karena dia berasal dari suku Batak. Kesimpulan: Semua orang religius [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kuliahfilsafat.wordpress.com&amp;blog=6335470&amp;post=125&amp;subd=kuliahfilsafat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>1.     Kesesatan karena pernyataan yang mengundang pertanyaan (<em>petitio principii</em>)</p>
<ul>
<li>Kesesatan ini terjadi karena kita menggunakan konklusi (apa yang hendak dibuktikan) sebagai premis.</li>
<li>Perhatikan contoh berikut. (1) Orang harus berlaku adil, karena itu adalah perintah Tuhan yang tertulis dalam kitab suci. (2) Andre Sitohang pandai menyanyi karena dia berasal dari suku Batak. Kesimpulan: Semua orang religius itu jujur.</li>
</ul>
<p>2.     Kesesatan karena menghindari persoalan. Kesesatan jenis ini sengaja dibuat untuk menghindari persoalan. Modus-modusnya antara lain: (1) Membuktikan apa yang seharusnya tidak dibuktikan; (2) Tidak membuktikan apa yang seharusnya dibuktikan; (3) Menyanggah apa yang sebenarnya tidak dinilai; (4) Membuktikan sesuatu yang tidak termasuk dalam persoalan.</p>
<p>Jenis kesesatan ini terdiri dari: (a) Argumentum ad hominem; (b) Argumentum ad populum; (c) Argumentum ad misericordiam; (d) Argumentum ad crumemam; (e) Argumentum ad verecundiam; (f) Argumentum ad ignorantiam; (g) Argumentum ad auctoritatem; (h) Argumentum ad baculum; (i) Argumentum demi keuntungan seseorang; dan (j) Argumentum non causa pro causa.</p>
<p><strong><em>a.     Argumentum ad hominem</em></strong></p>
<ul>
<li>Kesesatan yang timbul karena argumentasinya dialihkan ke orang.</li>
<li>Perhatikan contoh-contoh berikut. (1) Hati-hati bergaul dengan Anton. Ayahnya seorang mantan tapol. (2) Prof. Bertens seorang pastor, jadi wajar jika dia mendukung peraturan yang melarang poligami. (3) Jangan banyak bertanya, kamu masih anak ingusan.</li>
</ul>
<p><strong><em>b.     Argumentum ad populum</em></strong></p>
<ul>
<li>Kesesatan jenis ini terjadi karena sebuah argumen ditujukan kepada massa (orang banyak) dengan maksud menggugah perasaan.</li>
<li>Argumentasi dibangun hanya untuk mendapat dukungan, dan tidak memperhatikan masalah benar – salah.</li>
<li>Perhatikan contoh berikut. (1) Nelayan susah melaut karena harga BBM mahal; (2) Anak-anak terlantar pendidikannya karena harga buku mahal; (3) Para petani gagal panen karena harga pupuk mahal; (4) Puluhan ribu buruh di-PHK karena krisis keuangan nasional; (5) Partai Kurcaci telah terbukti dan teruji. Kesimpulan: <strong>Pilihlah Partai Kurcaci</strong></li>
</ul>
<p><strong><em>c.     Argumentum ad misericordiam</em></strong></p>
<ul>
<li>Kesesatan ini timbul karena argumentasinya diarahkan ke persoalan rasa belas kasihan (misericordia)</li>
<li>Perhatikan contoh berikut. (1) Kamu sebaiknya terus bekerja di kantor ini mengingat kondisi kesehatan istrimu yang terus memburuk (2) Tolong bantu saya dalam ujian, ya pak! Nilai-nilai mata kuliah lainnya sudah anjlok.</li>
</ul>
<p><strong><em>d.     Argumentum ad verucundiam</em></strong></p>
<ul>
<li>Kesesatan ini terjadi karena argumentasi dialihkan ke persoalan tradisi.</li>
<li>Perhatikan contoh berikut (1) Ibu saya rajin ke Wihara karena orang tuanya pun demikian. (2) Dari dulu orang-orang di kampung kami tidak berani keluar rumah di malam Jumat</li>
</ul>
<p><strong><em>e.     Argumentum ad ignorantiam</em></strong></p>
<ul>
<li>Kesesatan ini timbul karena argumentasi didasarkan pada ketidaktahuan (ignorantia).</li>
<li>Proposisi diandaikan benar karena orang tidak dapat membuktikan kesalahannya.</li>
<li>Proposisi diandaikan salah karena orang tidak dapat membuktikan kebenarannya.</li>
<li>Misalnya: Tuhan tidak ada, karena Anda tidak mampu membuktikannya.</li>
</ul>
<p><strong><em>f.      Argumentum ad auctoritatem</em></strong></p>
<ul>
<li>Kesesatan ini terjadi karena dukungan argumentasinya didapatkan dari otoritas tertentu.</li>
<li>Pelajari contoh berikut. (1) “Jangan berpacaran lagi dengan pemuda itu,” tegas Pak Agus kepada putrinya. (2) “Mengapa pak? Alice mencintai dia, pak!” (3) “Sekali ayah mengatakan tidak, ya tidak. Kamu harus taat.”</li>
</ul>
<p><strong><em>g.     Argumentum ad baculum</em></strong></p>
<ul>
<li>Kesesatan terjadi karena argumentasi yang dipakai untuk mendukung kebenaran adalah ancaman (<em>baculum </em>= tongkat untuk memukul).</li>
<li>Perhatikan contoh berikut. (1) Kamu akan saya pecat jika terus membantah. (2) Ambil tasmu dan keluar dari ruangan ini atau kupanggilkan satpam.</li>
</ul>
<p><strong><em>h.     Argumentasi demi keuntungan seseorang</em></strong></p>
<ul>
<li>Kesesatan terjadi jika kita mengabaikan masalah pokok dan lebih tertarik pada pendapatan atau keuntungan pribadi.</li>
<li>Perhatikan contoh berikut: Saya akan menyumbang lima juta untuk pembangunan musolah jika kamu memilih saya sebagai anggota DPR.</li>
</ul>
<p><strong><em>i.      Kesesatan non causa pro causa</em></strong></p>
<ul>
<li>Kesesatan ini terjadi karena orang salah menentukan penyebabnya. Misalnya, peristiwa B terjadi sesudah peristiwa A. Karena itu, orang menyimpulkan bahwa peristiwa A telah menyebabkan terjadinya peristiwa B, padahal belum tentu begitu.</li>
<li>Misalnya: Susi biasanya rajin berdoa menjelang UAS. Suatu saat Susi tidak berdoa dan hasil ujiannya jelek. Susi lalu berkata, “Coba kalau aku rajin berdoa, nilai ujianku pasti baik.”</li>
</ul>
<p><strong>Latihan kesesatan karena menghindari persoalan</strong></p>
<p>Pilihlah 3 dari 10 kesesatan karena menghindari persoalan dan buatlah masing-masing satu contoh kesesatan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kuliahfilsafat.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kuliahfilsafat.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kuliahfilsafat.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kuliahfilsafat.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kuliahfilsafat.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kuliahfilsafat.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kuliahfilsafat.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kuliahfilsafat.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kuliahfilsafat.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kuliahfilsafat.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kuliahfilsafat.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kuliahfilsafat.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kuliahfilsafat.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kuliahfilsafat.wordpress.com/125/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kuliahfilsafat.wordpress.com&amp;blog=6335470&amp;post=125&amp;subd=kuliahfilsafat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kuliahfilsafat.wordpress.com/2010/04/08/kesesatan-presumsi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a31301db44191714f039d13a621cb8c4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kuliahfilsafat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KESESATAN DIKSI</title>
		<link>http://kuliahfilsafat.wordpress.com/2010/04/08/kesesatan-diksi/</link>
		<comments>http://kuliahfilsafat.wordpress.com/2010/04/08/kesesatan-diksi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Apr 2010 04:28:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kuliahfilsafat</dc:creator>
				<category><![CDATA[LOGIKA]]></category>
		<category><![CDATA[kesesatan]]></category>
		<category><![CDATA[kesesatan diksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kuliahfilsafat.wordpress.com/?p=123</guid>
		<description><![CDATA[1.     Penempatan preposisi (kata depan yang keliru) Antara hewan dan manusia memiliki perbedaan (sesat).  Proposisi ini seharusnya dipecah menjadi (1) Antara hewan dan manusia ada perbedaan.; atau (2) Manusia dan hewan memiliki perbedaan. Bagi mereka yang lulus tes harus mendaftar ulang (sesat). Proposisi ini seharusnya dipecah menjadi (1) Mereka yang lulus tes harus mendaftar ulang; [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kuliahfilsafat.wordpress.com&amp;blog=6335470&amp;post=123&amp;subd=kuliahfilsafat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>1.     Penempatan preposisi (kata depan yang keliru)</p>
<ul>
<li>Antara hewan dan manusia memiliki perbedaan (sesat).  Proposisi ini seharusnya dipecah menjadi (1) Antara hewan dan manusia ada perbedaan.; atau (2) Manusia dan hewan memiliki perbedaan.</li>
<li>Bagi mereka yang lulus tes harus mendaftar ulang (sesat). Proposisi ini seharusnya dipecah menjadi (1) Mereka yang lulus tes harus mendaftar ulang; atau (2) Bagi mereka yang lulus tes ada keharusan untuk mendaftar ulang.</li>
</ul>
<p>2.     Mengacaukan posisi subjek dan predikat</p>
<ul>
<li>Sering terjadi dalam kalimat yang memiliki frase partisipal. Contoh: Karena tidak mengerjakan pekerjaan rumah, guru menghukum anak itu.</li>
<li>Siapa yang tidak mengerjakan pekerjaan rumah? Dalam kalimat ini terkesan yang tidak mengerjakan pekerjaan rumah adalah <strong>guru</strong>. Karena itu, sebaliknya kalimat itu menjadi: (1) Guru menghukum siswa yang tidak mengerjakan PR; atau (2) Karena tidak mengerjakan PR, anak itu dihukum guru.</li>
</ul>
<p>3.     Kesesatan karena ungkapan yang keliru</p>
<ul>
<li>Penjahat kawakan itu berhasil ditangkap polisi di kawasan Tanah Abang, hari Rabu lalu. Masalahnya: Siapa yang berhasil? Penjahat atau polisi? Kalimat ini mengesankan bahwa ada seorang penjahat kawakan yang terus berusaha untuk ditangkap polisi, tetapi selalu gagal. Usaha penjahat kawakan untuk ditangkap polisi baru berhasil hari Rabu lalu.</li>
<li>Nah, untuk menghindari kekeliruan semacam ini, sebaiknya kalimat diubah menjadi: (1) Polisi berhasil menangkap penjahat kawakan itu, hari Rabu lalu; atau (2) Penjahat kawakan itu akhirnya berhasil ditangkap polisi hari Rabu lalu.</li>
</ul>
<p>4.     Kesesatan amfiboli (arti bercabang)</p>
<ul>
<li>Kesesatan jenis ini terjadi karena struktur kalimat bercabang. Contoh: Mina, anak Pak Broto, yang sakit ingatan, hilang dari rumah. Dalam proposisi ini siapa yang sakit ingatan? Mina atau Pak Broto? Supaya kesesatan semacam ini bisa dihindari, sebaiknya kalimat itu diubah menjadi: Putri Pak Broto bernama Mina yang sedang sakit ingatan itu menghilang dari rumah.</li>
<li>Tentu kalimat bertingkat semacam ini bisa dipecah menjadi sekurang-kurangnya dua kalimat sederhana.</li>
</ul>
<p>5.     Kesesatan aksen atau tekanan (prosodi)</p>
<ul>
<li>Kesesatan jenis ini terjadi karena pemberian tekanan yang salah dalam pembicaraan. Perhatikan contoh-contoh berikut. (1) Ada peraturan, “Seseorang tidak boleh mengganggu <strong><em>istri tetangga Anda</em></strong>.” Nah, Pak Budi bukan tetangga saya, karena dia tinggal di Bogor sementara saya di Jakarta. Kalau begitu saya boleh mengganggu istrinya. Nah, kesalahan atau kesesatan terjadi karena istri tetangga diberi penekanan secara berlebihan, karena peraturan semacam itu berlaku tidak hanya untuk istri tetangga. (2) Pertimbangkan contoh lain berikut: (a) <strong><em>Rinso</em></strong> membersihkan segalanya. (b) Kita <strong><em>tidak boleh</em></strong> berkata-kata yang bernada melecehkan <strong><em>teman sendiri</em></strong>.</li>
</ul>
<p>6.     Kesesatan bentuk pembicaraan: Kesesatan jenis ini terjadi karena seseorang menyimpulkan bahwa kesamaan konstruksi dari satu istilah berlaku juga untuk istilah lainnya. Perhatikan contoh-contoh berikut. (1) Berpakaian artinya memakai pakaian; (2) Bersepatu artinya memakai sepatu; (3) Beristri artinya memakai istri</p>
<p>7.     Kesesatan aksiden: Kesesatan ini terjadi karena orang mengacaukan apa yang aksiden dengan apa yang esensial (hakiki) atau sebaliknya. Perhatikan contoh-contoh berikut. (1) Sawo matang adalah warna; (2) Orang Indonesia itu sawo matang; (3) Jadi, orang Indonesia itu adalah warna.</p>
<p>8.     Kesesatan karena alasan yang salah atau hanya diandaikan. Kesesatan ini terjadi ketika sebuah konklusi ditarik dari premis yang tidak relevan dengannya. Premis dimaksud untuk meyakinkan orang lain supaya menerima konklusi. Perhatikan contoh-contoh berikut.(1) Bambang harus dipromosikan menjadi manajer. (2) Dia adalah anggota tim yang baik; (3) Ayahnya seorang eksekutif bisnis; (4) Ibunya seorang yang sangat saleh; (5) Dia termasuk dalam asosiasi profesional yang sama dengan bos. Kesimpulannya: Oleh karena itu Bambang harus dipromosikan menjadi manajer</p>
<p><strong>Latihan</strong></p>
<p><strong><em>Telitilah soal-soal di bawah ini. Tunjukkan jenis kesesatan diksi dan perbaiki kalimat-kalimat tersebut supaya tidak menyesatkan lagi!</em></strong></p>
<ol>
<li>Untuk mencapai kawasan Puncak di akhir pekan dibutuhkan waktu lebih dari tiga jam.</li>
<li>Aurel, teman Benny yang malang itu, tutup usia seminggu yang lalu.</li>
<li>(a)    Marta selalu ke gereja setiap minggu; (b) Di rumah pun Marta rajin berdoa; (c) Dia selalu berusaha untuk hidup baik; (d) Mengapa Marta sering sakit-sakitan?</li>
<li>Mahasiswa yang duduk di atas meja yang paling depan diminta menghadap rektor.</li>
<li>Merokok membahayakan kesehatan ibu hamil dan janinnya. Kamu kan bukan ibu hamil. Jadi, kamu boleh merokok.</li>
<li>(a) Akhir sebuah benda adalah kesempurnaannya; (b) Maut adalah akhir dari kehidupan; (c) Jadi, maut adalah kesempurnaan kehidupan.</li>
</ol>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kuliahfilsafat.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kuliahfilsafat.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kuliahfilsafat.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kuliahfilsafat.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kuliahfilsafat.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kuliahfilsafat.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kuliahfilsafat.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kuliahfilsafat.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kuliahfilsafat.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kuliahfilsafat.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kuliahfilsafat.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kuliahfilsafat.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kuliahfilsafat.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kuliahfilsafat.wordpress.com/123/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kuliahfilsafat.wordpress.com&amp;blog=6335470&amp;post=123&amp;subd=kuliahfilsafat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kuliahfilsafat.wordpress.com/2010/04/08/kesesatan-diksi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a31301db44191714f039d13a621cb8c4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kuliahfilsafat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>LATIHAN PROPOSISI</title>
		<link>http://kuliahfilsafat.wordpress.com/2010/03/29/latihan-proposisi/</link>
		<comments>http://kuliahfilsafat.wordpress.com/2010/03/29/latihan-proposisi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Mar 2010 03:06:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kuliahfilsafat</dc:creator>
				<category><![CDATA[LOGIKA]]></category>
		<category><![CDATA[latihan proposisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kuliahfilsafat.wordpress.com/?p=121</guid>
		<description><![CDATA[Dari butir-butir soal di bawah ini, manakah yang termasuk proposisi Dia anak manis. Silahkan duduk! Apakah kamu suka minum teh? Secara operasional, logika menganalisa bahasa. Anak yang kemarin siang datang ke rumah saya dengan membawa sekaleng biskuit untuk kakak saya yang sedang sakit. Tujuan logika ialah untuk meningkatkan kemampuan berpikir tepat. Dirgahayu Republik Indonesia! Buku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kuliahfilsafat.wordpress.com&amp;blog=6335470&amp;post=121&amp;subd=kuliahfilsafat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<ol>
<li>Dari butir-butir soal di bawah ini, manakah yang termasuk proposisi
<ol>
<li>Dia anak manis.</li>
<li>Silahkan duduk!</li>
<li>Apakah kamu suka minum teh?</li>
<li>Secara operasional, logika menganalisa bahasa.</li>
<li>Anak yang kemarin siang datang ke rumah saya dengan membawa sekaleng biskuit untuk kakak saya yang sedang sakit.</li>
<li>Tujuan logika ialah untuk meningkatkan kemampuan berpikir tepat.</li>
<li>Dirgahayu Republik Indonesia!</li>
<li>Buku tebal itu.</li>
<li>Sakitnya hati saya.</li>
<li>Awas, jangan nakal lagi, ya!</li>
<li>Menurut sifat pengakuan dan pengingkarannya, proposisi-proposisi di bawah ini termasuk proposisi jenis apa? (tidak cukup kalau hanya menyebutkan proposisi kategoris atau hipotesis!)
<ol>
<li>Saya tidak suka pergi ke disko.</li>
<li>Jika kamu ikut, aku tak takut.</li>
<li>Pasti ia tak menepati janjinya.</li>
<li>Kamu tidak dapat sekaligus menjadi mahasiswa dan pelaut.</li>
<li>Kalau saja hari tak hujan, saya sudah pergi ke kampus.</li>
<li>Penjahat yang tertangkap akan menjalani hukuman yang berat.</li>
<li>Aku yang berhenti atau dia yang berhenti.</li>
<li>Ia sangat nakal.</li>
<li>Saya tidak dapat sekaligus menjadi mahasiswa dan karyawan.</li>
<li>Atau saya tidur atau kita teruskan pembicaraan kita.</li>
<li>Kembalikan proposisi-proposisi di bawah ini ke dalam bentuk yang standar!
<ol>
<li>Empat sepeda motor tersebut disita dari seorang penadah di daerah Pecenongan.</li>
<li>Polisi setempat sudah lama mencurigai pengusaha sepatu di desa Ciamis itu.</li>
<li>Nomor polisi itu ternyata dihidupkan kembali untuk mobil baru itu.</li>
<li>Hasilnya, golok itu diduga keras sebagai barang bukti kejahatan.</li>
<li>Berdasarkan alasan-alasan itu polisi mengambil tindakan.</li>
<li>Anjing itu sangat pintar.</li>
<li>Kasihan adalah perasaan yang selalu muncul dalam dirinya.</li>
<li>Masih ada perampok berpistol.</li>
<li>Yang datang ke tempat itu semuanya berasal dari satu fakultas.</li>
<li>Kata orang ibunya sudah menikah tiga kali.</li>
<li>Proposisi-proposisi di bawah ini menurut kuantitas dan kualitasnya termasuk proposisi apa?
<ol>
<li>Tidak semua peserta menyetujui usul itu.</li>
<li>Yang tidak mau bekerja tidak mendapat upah.</li>
<li>Tidak semua yang berkilap-kilap itu emas.</li>
<li>Orang Bali pandai menari.</li>
<li>Tak ada manusia yang tidak mati.</li>
<li>Kebanyakan karyawan di perusahaan melakukan korupsi.</li>
<li>Beberapa penyakit dapat disembuhkan.</li>
<li>Ada anjing menyalak.</li>
<li>Orang itu sakit kakinya.</li>
<li>Jakarta adalah kota terbesar di Indonesia.</li>
<li>Mereka yang tidak mendukung ketua senat itu melakukan unjuk rasa.</li>
<li>Orang kaya masih kurang sadar akan tanggung jawab sosialnya.</li>
<li>Ada keraguan membawa hasil.</li>
<li>Semua harapan pada dirinya tak juga disampaikan.</li>
<li>Orang yang tidak punya rasa malu itu dengan lahapnya menghabisi semua hidangan yang tersedia.</li>
<li>Seorang kuli bangunan jatuh dari tingkat delapan gedung itu.</li>
<li>Mahasiswa kedokteran tidak diperkenankan mengikuti kegiatan itu.</li>
<li>Kolam itu bukanlah kolam yang paling dirawat di desa itu.</li>
<li>Anggrek itu bunga yang indah.</li>
<li>Team “Arjuna” mengalahkan semua team yang mengikuti turnamen olahraga basket itu.</li>
<li>Tulislah proposisi-proposisi di bawah ini dengan lambang Boole dan kemudian buatlah Diagram Venn!
<ol>
<li>Beberapa jenis anjing itu sangat ganas.</li>
<li>Tidak ada binatang yang tidak takut pada manusia.</li>
<li>Tidak semua orang pandai menyanyi.</li>
<li>Semua binatang hanya dapat hidup di lingkungan tertentu.</li>
<li>Tidak ada gadis yang punya suami.</li>
<li>Banyak pemuda suka merokok.</li>
<li>Tidak semua penjahat dapat dibekuk batang lehernya.</li>
<li>Dia bukanlah pembunuh yang dicari polisi.</li>
<li>Tidak ada logika tradisional yang bukan sistem ciptaan Aristoteles.</li>
<li>Pikiran manusia tidak diciptakan untuk berpikir tidak tepat.</li>
<li>Apabila proposisi-proposisi (1) pada masing-masing butir di bawah ini adalah benar, apakah proposisi-proposisi (2), (3), dan (4) adalah benar atau salah atau tidak pasti? Sebaliknya, apabila proposisi-proposisi (1) itu adalah salah, apakah proposisi-proposisi (2), (3), dan (4) itu benar atau salah atau tidak pasti?</li>
<li>1.      Biduan bukan orang yang pandai bergaya.</li>
</ol>
</li>
</ol>
</li>
</ol>
</li>
</ol>
</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p>2.      Ada biduan yang tidak pandai bergaya.</p>
<p>3.      Tidak semua biduan tidak pandai bergaya.</p>
<p>4.      Tidak ada biduan tidak pandai bergaya.</p>
<ol>
<li>1.      Tidak ada gading yang tak retak.</li>
</ol>
<p>2.      Tidak semua gading retak.</p>
<p>3.      Beberapa gading retak.</p>
<p>4.      Semua gading tidak retak.</p>
<ol>
<li>1.      Kebanyakan anjing setia pada tuannya.</li>
</ol>
<p>2.      Setidak-tidaknya seekor anjing tidak setia pada tuannya.</p>
<p>3.      Binatang yang disebut anjing semuanya setia pada tuannya.</p>
<p>4.      Semua anjing tidak setia pada tuannya.</p>
<ol>
<li>1.      Tidak semua mahasiswa suka menyontek.</li>
</ol>
<p>2.      Ada mahasiswa yang suka menyontek.</p>
<p>3.      Tidak ada mahasiswa suka menyontek.</p>
<p>4.      Semua mahasiswa suka menyontek.</p>
<ol>
<li>Tentukanlah luas term predikat dari proposisi-proposisi yang terdapat pada nomor empat di atas!</li>
<li>Buatlah pembalikan dari proposisi-proposisi di bawah ini apabila memang bisa dibalik!
<ol>
<li>Semua barang luar negeri mahal harganya.</li>
<li>Tidak ada batu yang terapung di air.</li>
<li>Beberapa tanaman bukanlah yang termasuk tumbuh-tumbuhan berakar serabut.</li>
<li>Semua ikan tidak hidup di darat.</li>
<li>Masih ada manusia yang makan sagu.</li>
<li>Tidak semua manusia itu bisa membaca.</li>
<li>Anak itu pandai sekali di kelasnya.</li>
<li>Seorang pencuri kemarin ditangkap polisi.</li>
<li>Beberapa barang impor dianggap menaikkan gengsi.</li>
<li>Tak ada orang yang tak suka makan.</li>
</ol>
</li>
</ol>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kuliahfilsafat.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kuliahfilsafat.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kuliahfilsafat.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kuliahfilsafat.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kuliahfilsafat.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kuliahfilsafat.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kuliahfilsafat.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kuliahfilsafat.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kuliahfilsafat.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kuliahfilsafat.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kuliahfilsafat.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kuliahfilsafat.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kuliahfilsafat.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kuliahfilsafat.wordpress.com/121/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kuliahfilsafat.wordpress.com&amp;blog=6335470&amp;post=121&amp;subd=kuliahfilsafat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kuliahfilsafat.wordpress.com/2010/03/29/latihan-proposisi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a31301db44191714f039d13a621cb8c4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kuliahfilsafat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pembalikan atau Konversi</title>
		<link>http://kuliahfilsafat.wordpress.com/2010/03/29/pembalikan-atau-konversi/</link>
		<comments>http://kuliahfilsafat.wordpress.com/2010/03/29/pembalikan-atau-konversi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Mar 2010 03:05:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kuliahfilsafat</dc:creator>
				<category><![CDATA[LOGIKA]]></category>
		<category><![CDATA[konversi]]></category>
		<category><![CDATA[pembalikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kuliahfilsafat.wordpress.com/?p=119</guid>
		<description><![CDATA[Pembalikan adalah pengungkapan kembali kebenaran yang terkandung dalam suatu proposisi dengan cara menukar tempatkan term subyek dengan term predikatnya, tanpa mengubah kualitas (bentuk) proposisi itu. Karena dalam suatu proposisi terjadi suatu hubuangan antar term-subyek dan term predikatnya, maka berdasarkan itu dapat pula disimpulkan mengenai hubungan antara term predikat dan term subyeknya. Agar kesimpulan dari pembalikan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kuliahfilsafat.wordpress.com&amp;blog=6335470&amp;post=119&amp;subd=kuliahfilsafat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Pembalikan adalah pengungkapan kembali kebenaran yang terkandung dalam suatu proposisi dengan cara menukar tempatkan term subyek dengan term predikatnya, tanpa mengubah kualitas (bentuk) proposisi itu. </em></p>
<p>Karena dalam suatu proposisi terjadi suatu hubuangan antar term-subyek dan term predikatnya, maka berdasarkan itu dapat pula disimpulkan mengenai hubungan antara term predikat dan term subyeknya.</p>
<p><em>Agar kesimpulan dari pembalikan itu benar, luas term subyek dalam kesimpulan harus tetap sama dengan luas term predikat dalam proposisi asal (premis)</em>. Hal ini tidak begitu sulit apabila dalam proposisi premisnya luas term subyek dan luas term predikatnya sama: kedua-keduanya universal atau kedua-duanya partikular.</p>
<p>Ada dua macam pembalikan, yaitu:</p>
<p><strong><em>(1) </em></strong><strong><em>Pembalikan sederhana yang meliputi pembalikan terhadap proposisi E dan I</em></strong></p>
<p>-               <strong><em>Proposisi E dibalik menjadi proposisi E</em></strong> karena luas term subyek dan term predikat sama-sama universal. Artinya proposisi E kalau dibalik tetap menjadi proposisi E.</p>
<p>Contoh:</p>
<p>Premis: Semua mahasiswa bukan anak kecil (proposisi E)</p>
<p>Kesimpulan: Semua anak kecil bukan mahasiswa (proposisi E)</p>
<p>-           <strong><em>Pembalikan proposisi I</em></strong> pada proposisii I luas term subyek dan term predikat partikular. Dengan demikian proposisi I kalau dibalik tetap menjadi proposisi I.</p>
<p>Misalnya:</p>
<p>Premis: Beberapa mahasiswa berlatih karate (proposisi I)</p>
<p>Kesimpulan: Beberapa yang berlatih karate adalah mahasiswa (proposisi I).</p>
<p><strong><em>(2) </em></strong><strong><em>Pembalikan dengan pembatasan yang berlaku pada proposisi A. Luas term predikat proposisi A adalah partikular. Kalau dibalik secara sederhana begitu saja, maka term predikat yang semula partikular akan menjadi universal. </em></strong></p>
<p>Contoh:</p>
<p>Premesi: Semua buku logika adalah buku penting” (proposisi A: luas term “buku penting” adalah partikular).</p>
<p>Kesimpulan: “Semua buku penting adalah buku “logika” (proposisi A : luas term “buku penting” menjadi universal).</p>
<p>Jelaslah bahwa kesimpulan di atas salah. Untuk mendapatkan pembalikan yang tepat terhadap proposisi A, haruslah dilakukan dengan membatasi luas term subyek dalam proposisi kesimpulan menjadi partikular. Itu berarti pembalikan terhadap contoh di atas seharusnya adalah:</p>
<p><strong>Kesimpulan:</strong> “Sebagian buku penting adalah buku logika” (proposisi I: luas term “buku penting” adlaah partikular).</p>
<p>Jadi, proposisi A hanya bisa dibalik menjadi proposisi I. itulah sebabnya mengapa pembalikan terhadap proposisi A ini bisa disebut juga <em>pembalikan terbatas</em>.</p>
<p>Mengenai proposisi O, secara umum harus dikatakan bahwa proposisi O tidak dapat dibalik. Kalau dibalik, kita akan mendapatkan kesimpulan yang salah sebagaimana terlihat pada contoh berikut ini:</p>
<p>Premis: Sebagian manusia bukan dokter (proposisi O).</p>
<p>Kesimpulan: Sebagian dokter bukan manusia (proposisi O).</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kuliahfilsafat.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kuliahfilsafat.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kuliahfilsafat.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kuliahfilsafat.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kuliahfilsafat.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kuliahfilsafat.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kuliahfilsafat.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kuliahfilsafat.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kuliahfilsafat.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kuliahfilsafat.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kuliahfilsafat.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kuliahfilsafat.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kuliahfilsafat.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kuliahfilsafat.wordpress.com/119/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kuliahfilsafat.wordpress.com&amp;blog=6335470&amp;post=119&amp;subd=kuliahfilsafat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kuliahfilsafat.wordpress.com/2010/03/29/pembalikan-atau-konversi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a31301db44191714f039d13a621cb8c4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kuliahfilsafat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Luas Term Predikat</title>
		<link>http://kuliahfilsafat.wordpress.com/2010/03/29/luas-term-predikat/</link>
		<comments>http://kuliahfilsafat.wordpress.com/2010/03/29/luas-term-predikat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Mar 2010 02:58:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kuliahfilsafat</dc:creator>
				<category><![CDATA[LOGIKA]]></category>
		<category><![CDATA[luas term predikat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kuliahfilsafat.wordpress.com/?p=116</guid>
		<description><![CDATA[Kuantitas suatu proposisi tergantung pada luas term subyeknya. Namun, selain dari luas term subyek, perlu pula kita perhatikan luas term predikat, khususnya dalam hubungan dengan “pembalikan” dan “silogisme kategorisme”. Masalah pokok luas term predikat, dalam hubungan dengan proposisi afirmatif dan proposisi negatif, dapat dirumuskan dalam pertanyaan berikut ini: Apakah term predikat suatu proposisi dimaksudkan mencakup [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kuliahfilsafat.wordpress.com&amp;blog=6335470&amp;post=116&amp;subd=kuliahfilsafat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kuantitas suatu proposisi tergantung pada luas term subyeknya. Namun, selain dari luas term subyek, perlu pula kita perhatikan luas term predikat, khususnya dalam hubungan dengan “pembalikan” dan “silogisme kategorisme”.</p>
<p>Masalah pokok luas term predikat, dalam hubungan dengan proposisi afirmatif dan proposisi negatif, dapat dirumuskan dalam pertanyaan berikut ini: Apakah term predikat suatu proposisi dimaksudkan mencakup seluruh anggotanya (universal/berdistribusi) atau sebagaian anggotanya saja (partikular/tidak berdistribusi)? Berdasarkan pertanyaan tersebut, hukum pokok mengenai luas term predikat adalah sebagai berikut:</p>
<p><strong><em>DALAM PROPOSISI AFIRMATIF, LUAS TERM PREDIKAT SELALU PARTIKULAR,  DAN DALAM PROPOSISI NEGATIF, LUAS TERM PREDIKAT SELALU UNIVERSAL. </em></strong></p>
<p>Satu-satunya pengecualian terhadap hukum tersebut ialah apabila term predikat jelas-jelas menunjukkan satu hal tertentu; dan kalau begitu luas term predikat adalah singular dan tidak bisa disebut berdistribusi atau tidak berdistribusi.</p>
<p>Misalnya:</p>
<p>(a)         Lindberg adalah orang yang pertama-tama melintasi lautan Atlantik dengan kapal terbang.</p>
<p>(b)         Slamet bukanlah yang terkecil dari anak-anak Angkatan 2009.</p>
<p><strong>A.     Luas term predikat pada proposisi afirmatif </strong></p>
<p>Apabila kita perhatikan suatu proposisi A seperti <strong>“Semua manusia adalah makhluk hidup”</strong>, luas term “makhluk hidup” bukanlah universal, melainkan partikular. Dalam proposisi itu tidak dikatakan bahwa <em>“Semua manusia”</em> adalah “Semua makhluk hidup”, melainkan dikatakan “semua manusia adalah <em>“sebagian makhluk hidup”</em>. Karena itu, luas term predikatnya adalah partikular karena hanya mewakili sebagian saja dari anggotanya (tidak berdistribusi).</p>
<p>Misalnya:</p>
<p>(1)</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Anjing</span> itu <span style="text-decoration:underline;">binatang</span></p>
<p>S        =      P</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Manusia</span> adalah <span style="text-decoration:underline;">makhluk hidup</span></p>
<p>S                =                 P</p>
<p>Kita lihat bahwa kelas “anjing” atau “manusia” yang tidak dinyatakan kosong berada di dalam kelas “binatang’” atau “makhluk hidup”; dan karena itu kelas “anjing” atau “manusia” tersebut merupakan sebagaian saja dari kelas “binatang” atau “makhluk hidup”. Dengan kata lain, dari diagram-diagram venn tersebut kita dapat melihat bahwa baik kelas “binatang” maupun “makhluk hidup” tidak berdistribusi dan luasnya adalah partikular. Hal ini berlaku juga apabila proposisi A itu adalah proposisi singular (kecuali term predikat itu jelas-jelas menunjukkan hal tertentu).</p>
<p>Selanjutnya apabila kita perhatikan suatu proposisi I seperti “Sebagian hewan suka makan daging”, luas term “suka makan daging” adalah juga partikular. Dalam proposisi itu tidak dikatakan bahwa “sebagian hewan’”adalah “Semua yang suka makan daging”, melainkan dikatakan bahwa “sebagian hewan” adalah “sebagian dari yang suka makan daging”. Jadi, term predikatnya hanya mewakili sebagain saja dari anggotanya (tidak berdistribusi).</p>
<p>Dalam diagram Venn di atas, “sebagian hewan” yang dimaksud dalam proposisi itu berada di dalam kelas “yang suka makan daging” dan karena itu merupakan sebagian saja dari kelas “yang suka makan daging”.  Dengan kata lain, dari diagram Venn tersebut kita dapat melihat bahwa kelas “yang suka makan daging” tidak berdistribusi dan luasnya adalah partikular.</p>
<p>Bahkan kalau kita mendasarkan diri pada isi dari suatu proposisi yang term subyek dan term predikatnya memiliki keluasan yang sama persis, yaitu dalam kasus term predikat merupakan definisi dari term subyek, luas term predikat tetap partikular. Perhatikanlah proposisi “Manusia adalah makhluk berakal budi” merupakan definisi dari “manusia”, kedua term tersebut ditinjau dari sudut isinya mempunyai keluasan yang sama, yakni tidak ada “manusia” selain “makhluk berakal budi” dan tidak ada “makhluk berakal budi” selain “manusia”. Namun ditinjau dari bentuknya, makna proposisi tersebut bukanlah “semua manusia adalah makhluk berakal budi”, sebab saya tidak dapat mengatakan bahwa karena “Ahmad adalah manusia”, maka “Ahmad adalah semua makhluk berakal budi”.</p>
<p>Dari uraian  ini jelaslah bahwa dalam semua proposisi afirmatif, luas term predikatnya adalah partikular kecuali kalau term predikatnya jelas-jelas menunjukkan satu hal tertentu.</p>
<p><strong>B.     Luas term predikat pada proposisi negatif </strong></p>
<p>Dalam proposisi E seperti “Harimau bukanlah kambing”, term subyek yang menunjuk kelas “kambing” sama sekali tidak ada hubungan dengan term predikat yang menunjuk pada kelas “harimau”; begitu juga sebaliknya. Itu berarti “kambing” yang dimaksud dalam proposisi itu bukan hanya “sebagian kambing”, melainkan “Semua yang disebut kambing”; dan karena itu, term “kambing” pada proposisi itu berlaku untuk semua anggotanya (berdistribusi).</p>
<p>Dalam Diagram Venn tersebut, kelas “harimau” yang tidak dinyatakan kosong sama sekali tidak berada di dalam kelas “kambing”; dan dengan demikian dalam proposisi itu terjadi pengingkaran “semua kambing” tentang “semu harimau”. Dengan kata lain, dari Diagram Venn tersebut, dapat kita lihat bahwa kelas “kambing” berdistribusi dan luasnya adalah universal.</p>
<p>Begitu juga halnya dengan proposisi O seperti “Sebagian manusia tidak dapat berdansa”. Dalam proposisi tersebut term subyek “manusia” yang dimaksud (sebagian saja) sama sekali lepas dari term predikat “yang dapat berdansa”; begitu juga sebaliknya. Itu berarti “yang dapat berdansa” yang dimaksud dalam proposisi itu bukan hanya “Sebagian yang dapat berdansa”; dan karena itu term “yang dapat berdansa” pada proposisi itu berlaku untuk semua anggotanya (berdiskusi).</p>
<p>Dalam diagram Venn tersebut, kelas “manusia” yang dimaksud (perhatikan tanda silang) sama sekali tidak berada di dalam kelas “yang dapat berdansa”; dan dengan demikian dalam proposisi itu terjadi pengingkaran “semua yang dapat berdansa” tentang “sebagian manusia”. Dengan kata lain, dari diagram Venn tersebut, tampak bahwa kelas “yang dapat berdansa” berdistribusi dan luasnya adalah universal.</p>
<p>Dari uraian di atas, jelaslah bahwa dalam semua proposisi negatif, luas term predikatnya adalah universal, kecuali jika term predikatnya jelas-jelas menunjukkan satu hal tertentu.</p>
<p><strong>TABEL </strong></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="332" valign="top"><strong>Jenis Proposisi</strong></td>
<td width="332" valign="top"><strong>Luas Term Predikat</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="332" valign="top">A :   Universal-afirmatif</p>
<p>I :   Partikular-afirmatif</p>
<p>A :   Singular-afirmatif</td>
<td width="332" valign="top">Pasti   particular</p>
<p>Pasti   partikular</p>
<p>Partikular,   kecuali ternyata singular</td>
</tr>
<tr>
<td width="332" valign="top">E :   Universal-negatif</p>
<p>O :   Partikular-negatif</p>
<p>E :   Singular-negatif</td>
<td width="332" valign="top">Pasti   universal</p>
<p>Pasti   universal</p>
<p>Universal,   kecuali ternyata singular</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kuliahfilsafat.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kuliahfilsafat.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kuliahfilsafat.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kuliahfilsafat.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kuliahfilsafat.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kuliahfilsafat.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kuliahfilsafat.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kuliahfilsafat.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kuliahfilsafat.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kuliahfilsafat.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kuliahfilsafat.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kuliahfilsafat.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kuliahfilsafat.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kuliahfilsafat.wordpress.com/116/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kuliahfilsafat.wordpress.com&amp;blog=6335470&amp;post=116&amp;subd=kuliahfilsafat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kuliahfilsafat.wordpress.com/2010/03/29/luas-term-predikat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a31301db44191714f039d13a621cb8c4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kuliahfilsafat</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
